Jumat, 25 Januari 2013

Bukti Kezuhudan Nabi






 
Makanan yang beliau makan, pakaian yang beliau kenakan, tempat tinggal yang beliau diami dan harta yang beliau miliki cukup menjadi bukti bahwa Rasulullah saw adalah sosok yang sangat zuhud.

Bagaimana cara kita mengetahui bahwa Rasulullah saw adalah pribadi yang sangat zuhud?. Syaikh Muhammad Rawwas Qal’ah Jie, dalam kitab Dirasah Tahliliyyah li Syakhsiyyah ar-Rasul Muhammad, memberikan penjelasan. “Jika kita ingin membuat gambaran jelas nan jernih tentang kezuhudan Rasulullah saw, maka kita harus mengetahui makanannya, pakaiannya, tempat tinggalnya, dan simpanannya,” kata Profesor Rawwas.

Pertama, makanan Rasulullah Saw. Roti yang biasa dimakan beliau adalah roti gandum (yang kasar). Belau tidak pernah memakan roti tepung yang halus lagi empuk hingga beliau wafat. Beliau merasa kenyang dua hari berturut-turut karena makan sepotong roti gandum.

Abdullah bin Abbas berkata, “Rasulullah saw pernah tidur beberapa malam berturut-turut, sedangkan beliau dan keluarganya dalam keadaan lapar karena tidak memiliki sesuatu untuk makan malam, roti yang mereka makan sebagian besar adalah roti gandum.”

Fatimah, putri Rasulullah, pernah mendatangi beliau dengan membawa roti yang diremukkan. Beliau lalu bersabda, “Remukan apa ini, wahai Fatimah?”. Fatimah berkata,”Roti pipih bulat, hatiku tidak tenteram hingga membawakannya untukmu.” Rasulullah saw bersabda. “Sesungguhnya ini adalah makanan pertama yang masuk ke dalam mulut ayahmu setelah tiga hari.” Itulah roti yang biasa dimakan beliau.

Sementara lauk-pauk dan kuah beliau adalah cuka yang kadang-kadang digunakan beliau untuk membasahi rotinya. Beliau berkata, “Kuah yang paling enak adalah cuka.”Lauk-pauknya kadang-kadang daging. Akan tetapi, yang pasti Rasulullah saw tidak pernah memanggang daging domba untuk beliau makan, juga tidak memakan daging domba yang dipanggang.  Anas bin Malik telah berkata, “Aku belum pernah melihat Rasulullah saw memakan roti tipis halus lagi empuk hingga beliau wafat, juga tidak pernah melihat beliau memakan daging kambing yang dipanggang hingga beliau meninggal.”

Kedua, pakaian Rasulullah saw. 
Cukup kita mengetahui bahwa beliau –sebagaimana yang dikatakan oleh Aisyah --tidak pernah memiliki sesuatu secara berpasangan (dua-dua)--. Beliau tidak memiliki dua baju, dua jubah, dua kain pinggang, juga tidak memiliki sandal lebih dari sepasang.

Sebagian besar pakaian yang beliau pakai adalah baju bertambal. Abu Hurairah berkata, “Kami pernah mengunjungi Aisyah. Beliau menunjukkan kepada kami sebuah kain penutup bertambal dan kain pinggang yang kasar. Aisyah berkata, ‘Kain seperti inilah yang menjadi kafan beliau ketika dimakamkan.’”

Sebagaimana beliau memakai pakaian betambal, keluarganya pun memakai pakaian bertambal juga. Urwah bin Zubair berkata, “Aisyah tidak suka memperbarui bajunya (menggantinya dengan baju baru) melainkan menambalnya atau membaliknya.”

Semua pakaiannya itu berharga sangat murah sehingga Hasan al-Bashri pernah memperkirakan harga muruth (pakaian yang dibalutkan ke tubuh) istri beliau hanya dengan jumlah enam dirham.

Ketiga, tempat tinggal beliau. Tempat tinggal beliau bukanlah istana megah, tetapi hanya sebuah ruangan untuk setiap istrinya. Di dalamnya beliau tidur, duduk, makan, dan menerima tamu. Perabotannya pun sangat sederhana dan murah. Kasur dan bantal Rasulullah saw terbuat dari kulit yang diisi dengan serabut, sebagaimana telah dibahas.

Beliau tidak menghiasi dinding rumahnya dengan sebuah tirai pun. Beliau marah jika melihatnya, karena menganggap bahwa hal itu termasuk pemborosan pada saat kaum muslimin yang lain sangat membutuhkan, dan menganggap hal itu sebagai sesuatu yang bisa mendorong seseorang untuk mencintai dunia. Aisyah berkata, “Suatu saat Rasulullah saw berangkat perang, lalu aku menggantungkan sebuah permadani. Ketika Rasulullah saw datang dan melihat permadani tersebut, aku melihat pandangan tidak suka pada wajahnya. Lalu beliau mencopot permadani dan mengoyaknya seraya berkata, “Sesungguhnya Allah swt tidak memerintahkan kita untuk menghiasi ruangan dan tanah ini.”

Rasulullah saw mengunjungi rumah putrinya, Fatimah, dan beliau melihat sebuah tirai yang dibentangkan, kemudian beliau pulang kembali. Lalu datanglah Ali kepada beliau dan berkata, “Apakah benar kabar yang sampai padaku bahwa engkau mendatangi rumah putrimu, tetapi tidak jadi masuk ke dalamnya.”

Rasulullah saw bersabda, “Apakah aku tidak salah melihat bahwa rumahnya telah dihiasi tirai yang berasal dari nafkah di jalan Allah.” Padahal harga kain tipis yang digunakan putrinya itu hanya empat dirham.

Keempat, simpanan harta beliau.
Sesungguhnya Rasulullah tidak pernah menyimpan harta atau benda lainnya. Anas bin Malik berkata, ”Rasulullah saw tidak menyimpan sesuatupun untuk hari esok.”

Cukuplah kita mengetahui bahwa ketika Rasulullah wafat, beliau tidak meninggalkan sesuatupun kecuali sebuah pedang, seekor keledai dan sebidang tanah yang disedekahkan di jalan Allah. Beliau juga meninggalkan sebuah baju besi yang digadaikan kepada seorang laki-laki Yahudi seharga tiga puluh sha’ gandum yang diambil beliau untuk memberi makan keluarga beliau.”

Subhanallah, inilah teladan sikap zuhud dari manusia termulia di dunia dan akhirat, seorang Rasul yang sekaligus kepala negara, Rasulullah Muhammad saw.

[shodiq ramadhan]

Kamis, 24 Januari 2013

Tips Menghafal Al Quran Dari Palestina


 http://muslimdaily.net/file/syauqimrabbani.jpg


BANDUNG, muslimdaily.net - Selalu ada hal yang tidak sempat tersampaikan dalam setiap pemaparan kisah perjalanan seseorang ke suatu tempat yang di inginkan atau bahkan tempat yang amat jarang di idam-idamkan oleh orang kebanyakan. Yang tak-tersampaikan itulah yang MuslimDaily dapatkan dari kisah perjalanan Syauqi M. Rabbani, relawan Rumah Zakat yang menghabiskan akhir tahun 2012 di negara yang dikenal penuh konflik, Palestina. Dalam acara bertajuk My Gaza Story, anggota gerakan Indonesia Tanpa JIL ini membagi rekam jejak kemenangan Palestina pada agresi militer Israel, November 2012 lalu.  
Di sela-sela acara tersebut Syauqi menceritakan pengalaman kesehariannya di Palestina kepada MuslimDaily. Perjalanan yang berlangsung selama empat minggu ini dihabiskan lebih banyak bersama para penghafal Al Quran di Masjid Jami’atul Abrar. Masjid ini dibom oleh Israel tapi masih ada beberapa ruangan yang tersisa dan masih dapat ditinggali.
Oleh-oleh berharga yang dibawanya ke Indonesia salah satunya adalah semangat menghafal Al Quran yang dicontohkan pemuda Palestina di sana. “Mereka mengajari saya bagaimana cara menghafal Al Quran dengan mudah. Saya praktekkan di sini, dan ternyata bisa.” Ujarnya. “Sebelum tidur kita membaca halaman atau ayat yang sedang dihafal selama 10 kali. Tilawah ini dilakukan benar-benar jelang tidur yang tidak ada aktivitas lain sesudah itu. Pada pembacaan 10 kali ini bacaan kita harus benar-benar lancar dan tidak boleh ada kesalahan tajwid di dalamnya. Pada pembacaan yang ke 10 kita baca per-ayat beserta artinya. Pada tahap ini kita harus sampai paham makna dan maksud ayat yang kita hafal. Betul-betul harus masuk ke kepala kita cerita yang sedang kita hafal.
Setelah itu kita tidur. Keesokan paginya kita bangun sebelum subuh. Setelah Qiyamu Lail barulah kita menghafal ayat-ayat yang sudah dibaca 10 kali sebelum tidur tadi. Sebelum subuh kita harus sudah hafal ayat tersebut. Pada bagian ini pentargetan dilakukan. Jika tidak ada target, biasanya kita suka berleha dalam menghafal Al Quran. Setelah shalat subuh kita murajaah atau mengulang ayat-ayat yang sudah dihafal. Sampai waktu dhuha, kita melaksanakan shalat dhuha 8 rakaat. Setiap rakaat kita mengulang 1 ayat yang dihafal. Jika pada shalat dhuha hafalan kita sudah lancar, insyaAllah ayat-ayat tersebut sudah menempel di benak kita” papar Syauqi.
Hal yang membuat Palestina selalu dirindukan adalah nilai perjalanan di sana. “Kita bisa menjadikan perjalanan ke Mekah dan Madinah sebagai perjalanan spiritual, tapi perjalanan jihad tidak bisa kita dapatkan di sana. Perjalan jihad bisa kita dapatkan di Palestina.” tutur Syauqi. Semangat jihad rakyat Palestina menjadi penggugah semangat. Jika tidak ada hambatan, Mei 2013 Ia akan kembali ke Palestina untuk menyalurkan donasi dari Rumah Zakat dan Indonesia Tanpa JIL. [lnd]
http://static.arrahmah.net/images/_t/r_w_285/stories/2013/01/banjir_bunderan-HI.jpg(Arrahmah.com) - Gemerlap lampu dan kemeriahan yang menghiasi Buderan Hotel Indonesia pada pesta perayaan akhir tahun lalu kini disambut dengan kubangan coklat dan duka di awal tahun 2013 ini. Betapa dahsyatnya kubangan yang akrab dengan sapaan banjir itu hingga melumpuhkan  Ibu kota bahkan sampai ke istana negara.
Banjir di Jakarta sudah menjadi tamu tahunan, yang notabene kehadirannya tidak disukai oleh seluruh masyarakat terutama yang menjadi korban. Kehadirannya yang diawali dengan curah hujan yang kian tinggi sukses membuat  masyarakat  dan pemerintah seperti kuda dalam pacuan, seketika bergerak siaga mengatasi banjir yang sudah dipelupuk mata. Entah kata apa lagi yang pantas disandingkan kalau memang sikap tersebut 'terlambat sudah'. Ini bukan permasalahan kemarin sore, terus terjadi dan betapa amat disayangkan ketika 'sejarah' yang berulang ini tidak membuat seluruh masyarakat khususnya pemerintah berinstropeksi.
Menurut Yahya Abdurrahman (Ketua DPP Lajnah Siyasiyah Hizbut Tahrir Indonesia) , "persoalan ini harus diselesaikan dengan kemauan yang kuat. Perlu dikritisi kenapa penanganan banjir ini begitu lambat dikarenakan kurangnya kemauan dari pemerintah dan kendala persoalan sistemik. Kemauan politik yang tidak ada, serta lebih didominasinya kepentingan politik, kelompok dan individu yang akhirnya kepentingan rakyat menjadi terbengkalai." (mediaumat.com, (26/12).
Amien Widodo, Pakar Geologi dan Kebencanaan dari Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya mengatakan, "banjir yang melanda Jakarta selain karena tingginya curah hujan juga akibat perilaku buruk masyarakat. Setidaknya ada tiga kebiasaan buruk masyarakat yang menyebabkan banjir di Jakarta. Pertama, karena tidak adanya kawasan resapan. Kawasan resapan di puncak itu habis dipenuhi gedung. Kedua adalah, banyaknya masyarakat yang bermukim di bantaran Sungai. Dan perilaku ketiga adalah kebiasaan membuang sampah sembarangan. Jadi kawasan resapan ditutup, dan perilaku penduduk tepi sungai menyempitkan sungai dan membuang sampah ya jadilah banjir. Karenanya, kejadian seperti di Jakarta menjadi pembelajaran bagi semua untuk lebih baik lagi dalam menjaga lingkungan." (suarasurabaya.net, (21/01)
Ketika kita berkaca pada sejarah kekhilafahan Islamiyyah telah menunjukkan betapa syariat Islam sanggup menciptakan pemerintah yang peduli pada masyarakat dan menjaga lingkungan mereka. Misalnya di Provinsi Khuzestan, daerah Iran selatan misalnya masih berdiri dengan kokoh bendungan-bendungan yang dibangun untuk kepentingan irigasi dan pencegahan banjir.
Bendungan-bendungan tersebut di antaranya adalah bendungan Shadravan, Kanal Darian, Bendungan Jareh, Kanal Gargar, dan Bendungan Mizan. Di dekat Kota Madinah Munawarah, terdapat bendungan yang bernama Qusaybah bendungan ini memiliki kedalaman 30 meter dan panjang 205 meter bendungan ini dibangun untuk mengatasi banjir di Kota Madinah. Di masa kekhilafahan 'Abbasiyyah, dibangun beberapa bendungan di Kota Baghdad, Irak, bendungan-bendungan itu terletak di sungai Tigris.Pada abad ke 13 Masehi di Iran dibangun bendungan Kebar yang hingga kini masih bisa disaksikan.
Sebagai seorang muslim, kita seharusnya menyadari bahawa banjir yang terjadi saat ini ataupun segala musibah seperti gempa bumi, tsunami, angin ribut, kemarau dsb, memang merupakan peristiwa alam 'biasa' yang sering melanda umat manusia. Musibah seperti ini sebahagiannya merupakan suatu fenomena alam yang telah menjadi qadhâ' (ketentuan), ujian bahkan peringatan dari Allah.
Modal kesabaran adalah sikap terbaik dalam menghadapi ketentuan dan ujian dari Allah. Inilah nikmatnya menjadi sorang muslim, jika masalah datang ia bersabar mendapat pahala, ketika bahagia ia bersyukur mendapatkan pahala. Namun, barangsiapa marah maka diapun berhak mendapatkan (dosa) kemarahannya. Sebagaimana kita bisa menjadikan pola pikir dan pola sikap kita sesuai ajaran Islam dalam menjalankan kehidupan, insyAllah...Ridho Allah bersama kita. Allah juga tak luput menghadirkan  peringatan dalam setiap musibah, sebagai bekal instropeksi  manusia yang senantiasa gemar melakukan kerusakan di muka bumi ini.
Allah SWT berfirman:

"Telah nampak kerusakan di darat dan di laut akibat perbuatan tangan manusia,supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)" [Surah ar-Rum (30): 41].
Seluruh 'musibah' di atas sepatutnya menginsafkan dan menyadarkan kita, bahwa telah tiba saatnya untuk kita bertaubat kepada Allah SWT. Sebab, sebahagian besar musibah yang menimpa kita adalah akibat kurangnya kita menta'ati Allah swt dan bahkan mencampakkan syariat-NYA.
Wahai kaum muslim!
Bersegeralah kita bertaubat dengan menerapkan segala perintah dan larangan Allah swt dan berusaha bersama-sama menerapkan kembali syari'at-Nya dengan menegakkan kembali sistem Khilafah Islamiyah yang akan membawa manusia pada keberkahan hidup. Dengan mengubah pola pikir dan sistem sekarang menuju Islam maka persoalan ini tidak akan terjadi berlarut-larut seperti tanpa jalan keluar. Wallâh a'lam bi ash-shawâb.
"Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri tersebut beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya."
(Qs. Al-A'raf: 96)

Oleh: Ully Armia

Irena Handono: Paus Benedictus XVI Akui 25 Desember Bukan Hari Natal

Jakarta (SI ONLINE)- Kabar mengejutkan justru datang dari Pusat Pemerintahan Katolik Dunia, Vatican. Pemimpin Tertinggi Gereja Katolik Roma, Paus Benedictus XIV mengakui, hari kelahiran Yesus Kristus (Nabi Isa AS) atau Hari Natal bukan tanggal 25 Desember sebagaimana yang selama ini diperingati umat Kristen di seluruh dunia.

Namun Paus sendiri juga tidak mengetahui kapan tepatnya hari kelahiran Nabi Isa AS yang difitnah dan dijadikan sebagai anak Tuhan itu. Padahal dalam Islam, Nabi Isa AS adalah Nabi dan Rasul yang mengajarkan ajaran Tauhid bukan ajaran Trinitas yang penuh dengan kepalsuan dan kebohongan tersebut.

“Paus Benedictus XVI sendiri mengakui Hari Natal (tanggal kelahiran Yesus) bukan tanggal 25 Desember, sehingga Yesus tidak lahir pada tanggal 25 Desember,” ungkap Kristolog Hj Irena Handono dalam diskusi mengenai Kristologi di Kantor Pusat Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) Jakarta, Selasa (22/1). Diskusi dibuka Wakil Ketua Badan Kerjasama Pondok Pesantren se-Indonesia (BKsPPI), KH Cholil Ridwan Lc.

Direktur Irena Center yang mengaku pernah berkunjung ke Vatican itu menyebutkan bukti pernyataan Paus itu tertuang dalam buku: “Jesus of Nazareth: The Infancy Narratives”, yang dirilis pada 25 November 2012 lalu di Vatican. Dengan demikian, kalau selama ini umat Kristen merayakan Natal pada 25 Desember, berarti salah besar.

Di kalangan para pemimpin Kristen sendiri sebenarnya terjadi keragu-raguan. Sebab ternyata penetapan Hari Natal 25 Desember merupakan kesepakatan para pemimpin Gereja waktu itu, karena mereka sendiri tidak mengetahui kapan kelahiran Yesus (Nabi Isa AS) tersebut.

“Bahkan mereka juga berbeda pendapat, dimana Yesus dilahirkan, apakah di kandang domba, goa ataukah dibawah pohon cemara sebagaimana dilambangkan dengan pohon Natal selama ini,” ujar Hj Irena Handono.

Kelahiran Nabi Isa AS

Menurut Hj Irena Handono, Kitab Suci Al Qur’an telah menerangkan dengan sangat tepat dan benar akan kelahiran Nabi Isa AS, seperti yang dijelaskan pada Surat Maryam (19) ayat 23, 24 dan 25.

“Maka tatkala rasa sakit akan melahirkan anak memaksa ia (bersandar) pada pangkal pohon kurma. Dia berkata: “Aduhai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi barang yang tidak berarti, lagi dilupakan.(23). Maka Jibril menyerunya dari tempat yang rendah: “Janganlah kau bersedih hati, sesungguhnya Tuhanmu  telah menjadikan anak sungai di bawahmu. (24). Dan goyanglah pangkal pohon kurma  itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma  yang masak kepadamu.” (25).

Dengan keterangan Al Qur’an yang pasti benar ini, maka tertolaklah semua argumen umat Kristen tentang Hari Natal, dimana dikatkan Yesus lahir pada 25 Desember di Betlehem pada musim salju. Padahal pada musim dingin, pohon kurna jelas tidak mungkin berbuah, dan hanya akan berbuah pada musim panas yang terjadi antara akhir Juni sampai akhir September.

Didalam Al Qur’an juga disebutkan Siti Maryam (Ibu Nabi Isa AS), ketika akan melahirkan bersandar di pangkal pohon kurma dan dibawahnya ada sungai yang mengalir. Hal itu menunjukkan kelahiran Nabi Isa AS bukan pada musim dingin karena sungainya tidak beku.

Demikian pula kalau selama ini ada anggapan Nabi Isa AS lahir dibawah pohon cemara, jelas suatu kebohongan besar. Sebab pohon cemara tidak mungkin hidup di Yerusalem. Al Qur’an telah menyebutkan Nabi Isa AS lahir dibawah pohon kurma, bukan cemara.

“Jadi yang benar adalah Yesus lahir dibawah pohon kurma pada musim panas, bukan lahir dibawah pohon cemara atau kandang domba atau goa. Yesus lahir bukan pada musim dingin sebagaimana selama ini diperingati sebagai hari Natal, tetapi pada musim panas di Yerusalem,” tegas mantan biarawati yang telah menghasilkan banyak buku mengenai Kristologi tersebut. (*)   

Imam Masjid Al Aqsha Haramkan Kewarganegaraan Israel

Al Quds (SI ONLINE) - Seorang Imam dan Khatib Masjid Al-Aqsha yang berada di Al-Quds (Yerusalem), Palestina, Syeikh Ikrima Sabri telah menyampaikan fatwa tentang haramnya siapapun memperoleh kewarganegaraan Israel.

"Pertempuran melawan penjajah Israel memiliki aspek demografis, sehingga memperoleh kewarganegaraan Israel berkontribusi dalam meningkatkan jumlah penduduk Israel. Hal ini dianggap sebagai upaya mendukung penjajahan dan pengakuan Israel. Sementara pada saat yang sama akan melemahkan posisi penduduk asli yang berada di Al-Quds," tegas Syekh Sabri dalam khutbah Jum’at (18/12) yang disampaikannya di Masjid Al-Aqsha seperti dikutip Al Resalah dan dikutip Mi’raj News Agency (MINA), Ahad dini hari (20/1).

Namun, ia menekankan, pengecualian bagi penduduk yang tinggal di wilayah Palestina 1948  yang kini sedang dijajah Israel karena mereka terpaksa untuk menerima situasi itu. "Sehingga menurut ilmu hukum Islam dalam 'hukum darurat', pelarangan itu menjadi diperbolehkan," jelas Syeikh Sabri.

Syeikh Sabri juga mengecam penangkapan dan pengepungan yang diberlakukan oleh pasukan penjajah Israel di desa Isawiya selama lebih dari sebulan.

Ia juga memuji aktivis yang mendirikan tenda-tenda di sekitar desa Bab Eshams sebagai bentuk aksi perlawanan jenis baru menghadapi perampasan tanah yang dilakukan pasukan penjajah Israel dan pemukim ilegal Yahudi.

Ingin Berhenti Merokok? Makan Pisang Saja

Buah pisang dipercaya dapat mengurangi ketagihan akan nikotin.

Selama ini, buah pisang dikenal sebagai salah satu camilan ringan yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat di seluruh dunia.

Terlebih, buah yang satu ini sering dikaitkan dengan berbagai program diet karena memiliki sejumlah manfaat untuk kesehatan tubuh.

Sebagai contoh, kandungan vitamin B dan mineral lainnya yang terdapat dalam buah pisang, ternyata dapat membantu kalangan pecandu untuk berhenti merokok.  

Kandungan buah pisang dipercaya dapat mengurangi ketagihan akan nikotin, dan disaat yang bersamaan dapat menetralisir kadar nikotin dalam darah sekaligus menenangkan pikiran pecandu rokok.  

Selain dipercaya bisa membantu kalangan yang ingin berhenti merokok, buah pisang juga memiliki khasiat lain yaitu untuk mengurangi rasa sakit PMS (pre-menstrual syndrome) serta menurunkan kadar gula darah dan memperbaiki mood

Untuk yang tengah menghadapi situasi stress yang berlebihan, sangat disarankan juga untuk mengambil jeda sebentar dan mengkonsumsi buah pisang untuk meredakan ketegangan.

Selamat mencoba.
Penulis: yourhealth/Feriawan Hidayat (http://www.beritasatu.com/kesehatan/79786-ingin-berhenti-merokok-makan-pisang-saja.html)

Rabu, 23 Januari 2013

Entrepreuner Berdoa


 http://ustadchandra.files.wordpress.com/2010/09/doa2.jpg?w=316


http://www.eramuslim.com- Pernahkah saudara mendengar sebuah hadist bagaimana cara melantunkan sebuah doa versi tiga orang yang terkurung dalam sebuah gua, saya ingin ceritakan kembali versi singkatnya.
Rasulullah pernah mengabarkan mengenai kisah tiga orang yang terjebak dalam gua, mereka semua berada dalam keputusasaan hingga salah seorang dari mereka berkata, “Sungguh tidak ada yang dapat menyelamatkan kalian dalam bahaya ini, kecuali bila kalian berdoa kepada Allah swt dengan menyebut amal-amal saleh yang pernah kalian perbuat. Kemudian salah seorang berdoa dengan menyebutkan amalan utamanya berupa memuliakan orang tuanya dibanding keperluan anak-anaknya sendiri, kemudian setelah dia uraikan amalannya dia berkata, “Ya Allah, jika aku berbuat itu karena mengharapkan ridha-Mu, maka geserkanlah batu yang menutupi gua ini”, maka bergeserlah sedikit batu itu, tetapi mereka belum bisa juga keluar. Kemudian orang kedua pun melanjutkan doanya yang berkaitan dengan amalan utamanya berupa menghindari diri dari perbuatan zina karena takut kepada Allah, dan dia berdoa, “Ya Allah jika aku berbuat itu karena mengharapkan ridha-Mu, maka geserkanlah batu yang menutupi gua ini”, maka bergeserlah sedikit batu itu. Tapi mereka belum juga bisa keluar, maka orang ketiga pun melanjutkan doanya mengenai amalan utamanya berupa menjaga amanat harta orang lain yang dikelolanya, dan dia berdoa, “Ya Allah jika aku berbuat itu karena mengharapkan ridha-Mu, maka geserkanlah batu yang menutupi gua ini”, maka bergeserlah sedikit batu itu, dan mereka pun bisa keluar dari gua itu. (HR Bukhari dan Muslim).
Dan pernahkah juga saudara mendengar ataupun membaca bagaimana Rasulullah melantunkan doa di kala sangat kritis sewaktu berkecamuknya perang Badar? Saya akan coba menguraikan kembali kisahnya secara singkat.
Kala itu setelah meluruskan barisan pasukan kaum muslimin, Rasulullah kembali ke tendanya dengan ditemani oleh Abu Bakar, dan tidak ada seorang pun kecuali keduanya. Lalu Rasulullah bermunajat kepada Rabb-Nya, dengan seluruh jiwanya ia menghadapkan diri kepada Tuhan-Nya, begitu dalam ia hanyut dalam doa.
Dalam permohonannya ia berkata, “Allahumma Ya Allah, ini bangsa quraisy sekarang datang dengan segala kecongkakannya, berusaha untuk mendustakan rasul-Mu. Ya Allah, berilah pertolongan-Mu yang telah Engkau janjikan kepadaku. Ya Allah, jika Engkau membinasakan kaum kami pada hari ini, tiada lagi yang akan menyembah-Mu.”
Sementara ia hanyut dalam doa sambil merentangkan tangan menghadap kiblat, mantelnya terjatuh. Ketika itu Abu Bakar menyaksikannya lalu meletakkan mantel itu kembali ke bahu Rasulullah, sambil ia berkata, “Wahai Nabi Allah, dengan doamu itu, sesungguhnya Allah pasti memenuhi janji-Nya kepadamu.”
Tetapi sungguh pun begitu, Muhammad semakin dalam terbawa dalam aliran doa, dengan penuh ke-tawadhu-an dan kesungguhan hati ia terus memanjatkan doa, memohonkan pertolongan Tuhan-Nya dalam menghadapi peristiwa yang genting, yang oleh kaum muslimin sama sekali tidak diharapkan, dan untuk pertempuran itu pula mereka tidak memiliki persiapan.
Hingga karena letihnya dalam berdoa membuat Rasul tertidur, beberapa saat kemudian beliau terbangun dengan rasa gembira, dan bersabda, “Bergembiralah hai Abu Bakar, sungguh pertolongan Allah telah datang kepadamu. Inilah jibril sedang memegang kendali kuda. Ia menuntun kuda tersebut, dan gigi di depannya terdapat kematian.”
Kemudian ia keluar menemui sahabat-sahabatnya, dikerahkannya semangat sambil berkata:
“Demi Dia yang memegang jiwa Muhammad, setiap orang yang sekarang bertempur dengan tabah, bertahan mati-matian, terus maju dan pantang mundur, lalu ia tewas, maka Allah akan menempatkannya di surga.”
Beberapa waktu lalu saya bertemu rekan lama, dia seorang pengusaha, kulihat sekarang kondisinya lumayan lah, mungkin bisnis yang dikelolanya cukup berhasil.
“Alhamdulillah”, gumamku.
Saya ingat beberapa tahun silam dia pernah mengalami suatu ujian yang berat atas perusahaan yang dikelolanya, saat itu sering beliau mencurahkan isi hatinya kepadaku dan menceritakan beratnya ujian yang dialaminya, setelah setumpuk ikhtiar dilakukan, bisnisnya tak kunjung mendapatkan tanda-tanda akan selamat dari kebangkrutan, dan bukan saja bangkrut, bahkan akan terjerat hutang usaha yang sangat besar, dia katakan sekitar puluhan milyar siap untuk menjerat lehernya.
Bukan saja sisi nominal yang membuatnya sesak, tak kalah beratnya yang menjadi beban adalah tanggungan puluhan karyawan yang berada di perusahaannya, intinya menurut beliau pada saat itu adalah masa yang sangat mengguncang jiwanya, makan tak enak, tidur tak lelap, dan segala yang tak enak lainnya menghampiri beliau.
Yang kutahu, di sisi yang lain usaha beliau bukan saja terkait pada sektor bisnis, tetapi beliau juga aktif dalam melakukan pembinaan usaha berupa pesantren di suatu desa terpencil, pesantren tersebut tumbuh secara sehat, santrinya sekitar lima ratusan, tetapi jenis usahanya adalah nirlaba, atau tidak dikenakan biaya apa pun terhadap santri yang sekolah di pesantren tersebut.
“Usaha pesantren ini untuk cash flow langit”, begitu ujarnya setiap kali saya tanyakan kenapa dia serius sekali mengelola usaha nirlaba ini.
Saya menjadi penasaran dan tercetus keingintahuan bagaimana caranya dia menyelesaikan masalah usahanya pada tahun-tahun silam. Karena saya melihat kondisi saat ini jauh berubah, lebih sukses bila dibandingkan pada saat itu.
Beberapa kali kupancing serentetan pertanyaan dari ketidaksabaranku, barulah ia bersedia untuk menceritakan kisahnya …
Ya kawan karibku, tiada satu kekuatan yang dapat membantuku saat itu kecuali kekuatan Allah, tiada yang maha pengasih kecuali Allah pula, Dialah yang memberikan jawaban dan jalan keluar kepadaku. Kami ini makhluk yang sangat lemah dan hina, dan Dia lah Maha Kuat dan Maha Kaya. Tiadalah kejadian itu terjadi kecuali menambah kualitas keimanan kami, kami merasakan kasih sayang dan cinta-Nya.
Engkaupun tahu masalah yang kami hadapi saat itu, penuh dengan kesukaran, hati terasa sempit, kami ditinggalkan pula oleh kawan-kawan, tiada pihak yang ingin meringankan masalah kami saat itu, semua pihak menekan, menekan dan menekan setiap waktu.
Pada saat usaha kami jatuh, tiada akal lagi untuk mencari apa peluang pengganti usaha kami ini agar bisa melunasi hutang usaha yang berjumlah milyaran itu, sama sekali tidak ada ide, tertutup. Walaupun demikian kami tetap melakukan berbagai ikhtiar mencari solusinya, hingga sampai pada suatu waktu kami pasrah terhadap apapun keputusan-Nya.
Sering kali kami lantunkan doa untuk diberikan jalan keluar atau yang terbaik bagi kami, bahkan ribuan kali kami berdoa, bukan saja di saat sholat, bahkan dalam perjalanan pun tak lupa kami berdoa kepadanya, intinya lidah dan bibir kami basah dengan doa dan pujian.
Hari demi hari, minggu demi minggu, dan sekian bulan berlalu dalam kondisi tak menentu. Lalu sampailah pada satu saat aku berdoa di malam hari di tengah semua orang tertidur lelap, bersimpuh dan berdoa kepada-Nya, aku hanya ingat beberapa hadist dan kisah Kekasihku dalam melantunkan doa-doanya. Kemudian dia bercerita mengenai dua kisah di atas.
Aku coba ikuti cara Kekasihku, Muhammad, dalam berdoa pada saat-saat yang genting, dan kusesuaikan redaksi doanya dengan kondisiku.
“Ya Allah, Engkau Maha Tahu kondisi kami ini, kami sedang dibebani masalah, dan Engkau tahu pula bahwa dari hasil usaha yang kami upayakan kami kelola pula sebuah usaha pesantren, Engkau tahu kami tidak memungut biaya apapun pada mereka.”
Jika memang amal ibadah tersebut kami lakukan hanya untuk meraih keridhoan-Mu, mohon Ya Allah berilah jalan keluar untuk kami.
Ya Allah, kami khawatir jika engkau tidak membantu hamba-Mu ini, kami khawatir keberlangsungan pesantren kami terhenti, akan ke mana perginya santri-santri tersebut.
Ya Allah, aku sayang mereka, kami iba dengan wajah mereka, curahkan kasih sayang-Mu pada mereka, dengan menolong usaha kami Ya Allah.
Engkaulah yang Maha Mengetahui hati hati kami, ikhlaskanlah hati kami, dan lapangkan hati kami apapun yang engkau putuskan, dan kami yakin apapun keputusan-Mu adalah yang terbaik bagi kami.
Tak kusangka doanya tersebut membuat jiwaku bergetar dan tak kuasa emosiku terlibat, nyaris kupeluk sahabatku itu, luar biasa makna dari doa tersebut.
Kemudian dia lanjutkan kembali, “Setelah kulantunkan doa tersebut, tak kusangka dalam waktu yang sangat singkat kasih sayang-Nya telah membuka sebuah jalan keluar yang tidak terduga, ibarat pintu gua yang tidak mungkin terbuka dalam kisah yang kuceritakan itu dengan izin-Nya menjadi terbuka”.
Sambil menahan emosi, ia melanjutkan, “Tiba-tiba seorang relasi kami menawarkan suatu bisnis yang terbilang besar yang tidak pernah tersentuh oleh perusahaanku, bahkan bisnis tersebut di luar kapasitas secara materi maupun keahlian yang kami punya. Kala itu kami pikir bahwa peluang bisnis tersebut pastilah sudah diatur pemenangnya, paling-paling kalau ikut partisipasi juga, ya paling tidak hanyalah mengarak pemenangnya saja.
Saat itu, benar-benar aku tidak tertarik untuk memprosesnya. Kudiamkan saja. Tapi peluang itu datang lagi, datang lagi dan hadir kembali. Karena sering kali peluang yang sama itu selalu hadir, kucoba beranikan diri untuk memprosesnya.
Apa yang terjadi selanjutnya sungguh ku tak pernah menduganya. Kami mendapati ribuan kemudahan, kami memperoleh proyek tersebut dengan mudah, karena hanya perusahaan kami yang mengajukan proposal tender tersebut dan tidak ada pesaing sama sekali!
Ke mana para competitor yang besar? Ke mana mereka semuanya? Muncul keanehanku saat itu.
Bila Dia memutuskan sesuatu, tidak ada pihak pun yang akan mampu menghambat-Nya! Ini semuanya kemudahan dari-Nya, Dia permudah seluruh proses tersebut. Dan dalam jangka waktu yang singkat kami mendapati keuntungan tiga kali dari jumlah hutang kami! Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Begitulah dia menceritakannya dengan penuh keharuan.
Selanjutnya kutahu, temanku itu menjadi orang yang selalu bersyukur dan dia yakin sekali bahwa pesantren tersebut telah menjadi amal andalan yang telah menjadi perantara doanya.
Kabar terakhir yang kuterima, pesantren tersebut menjadi semakin besar dan megah walaupun para santrinya tidak pernah terbebani oleh biaya apapun.
Nah, bagi para enterpreneur, tidak selamanya masa-masa menyenangkan hadir dari kehidupan seorang pengusaha, adakalanya masalah yang banyak terjadi justru sebuah ujian yang tidaklah ringan. Keberhasilan itu hadir setelah melewati masa masa sulit. Bukankah layangan akan terbang tinggi bilamana ada angin yang menerpanya?
Atau mungkin, bagi seorang pengusaha, janganlah berpikir hanya mengembangkan usaha untuk meraih keuntungan materi saja, tetapi cobalah mulai dipikirkan sebuah usaha alternatif yang bermanfaat buat orang banyak, yang akan dijadikan cash flow langitnya. Bisa saja usaha-usaha tersebut akan dan telah menjadi amalan andalan, yang bilamana kita terhimpit suatu masalah ataupun ujian yang berat, bisa dijadikan perantara atau tawasul untuk permohonan doa kita kepada Allah.

Terakhir, selamat berdoa. Allah Maha Mendengar rintihan hamba-hamba-Nya.

Zidni T. Dinan

zidni_dinan@yahoo.com

Untuk rekan-rekanku seperjuangan, saya hanya katakan bahwa jalan itu masih panjang!