Shodiq Ramadhan
Redaktur Suara Islam Online
Gempa bumi berskala besar kembali melanda wilayah Aceh, Sumatera Utara,
hingga ke bagian Selatan Thailand. Meski tidak menimbulkan tsunami
seperti tahun 2004 lalu, gempa berkekuatan 8,5 skala richter itu
dikabarkan telah menelan korban 10 orang meninggal. Demikian berdasarkan
rilis yang dikeluarkan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB)
hingga Jumat (13/4/2012). Selain korban meninggal, juga tercatat 4 orang
luka berat dan 8 orang luka ringan.
Seperti yang sudah-sudah, musibah gempa yang terjadi tidak juga
dijadikan sebagai sarana untuk introspeksi diri (muhasabah) dan
bertaubat kepada Allah Swt. Banyak kalangan malah sibuk dengan
analisa-analisa ilmiah di balik peristiwa gempa. Bahkan staf khusus
presiden bidang bantuan sosial dan bencana, Andi Arif, dalam wawancara
dengan sebuah stasiun televisi swasta nasional malah mencoba
mencari-cari fakta sejarah yang mengungkapkan memang wilayah nusantara
ini, termasuk Sumatera, rawan terhadap gempa.
SBY, sebagai atasan Andi Arif, tak jauh berbeda. Sesaat setelah terjadi
gempa di Aceh menggelar konferensi pers. "Situasi sekarang sudah under controlled," kata SBY memberikan keterangan pers, di Jakarta, Rabu (11/4). Menurutnya, sejauh ini tidak ada laporan adanya korban jiwa.
SBY juga mengatakan, belum ada laporan tentang kerusakan bangunan. Meski
demikian gempa itu memang menimbulkan kepanikan. "Alhamdulillah,
sementara tidak ada laporan korban jiwa dan tidak adanya kerusakan parah
di Banda Aceh. Sempat terjadi kepanikan," ujarnya.
Tak ada pernyataan himbauan agar masyarakat menjauhi maksiat dan
bertaubat kepada Allah Swt, sebagaimana Amirul Mukminin Umar bin Khattab
berpidato saat Madinah dilanda gempa. Saat itu Khalifah Umar
mengatakan, "Wahai bumi adakah aku berbuat tidak adil?" lalu berkata
lantang, "Wahai penduduk Madinah, adakah kalian berbuat maksiat?
Tinggalkan perbuatan itu, atau aku akan meninggalkan kalian!".
Maksiat Sebab Bencana
Untuk mengetahui adakah hubungan antara bencana, apakah gempa bumi,
banjir, tsunami, kelaparan, krisis pangan, kemarau berkepanjangan,
tenggelamnya kapal, jatuhnya pesawat, dan sebagainya, saya ingin
mengetengahkan kepada pembaca dua ayat dallam Al-Qur’an yang difirmankan
Allah Swt dalam dua surat yang berbeda. Surat Ar-Ruum ayat 41 dan surat
As-Syuura ayat 30.
Allah Swt berfirman dalam QS Ar-Ruum: 41, “Telah nampak kerusakan
di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya
Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka,
agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”
Untuk memahami ayat itu, Ustadz Muhammad Ali Ash-Shabuni dalam kitab tafsirnya, Shafwatut Tafasir, menjelaskan sebagai berikut:
Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, tampaklah
musibah dan petaka di darat dan lautan karena perbuatan maksiat dan
dosa umat manusia. Al-Baidhawi berkata: Yang dimaksudkan kerusakan
adalah paceklik, banyak kebakaran, tenggelam, sirnanya berkah dan
banyaknya kerugian karena maksiat manusia. Ibnu Katsir berkata, jelaslah
bahwa kerusakan pada tanaman dan buha-buahan adalah akibat kemaksiatan
manusia, sebab baiknya bumi dan langit adalah berkat ketaatan.
supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka,
hal itu agar Allah membuat mereka merasakan sebagian akibat dari
perbuatan mereka di dunia sebelum menghukum mereka semuanya dengan hal
itu di akhirat.
agar mereka kembali (ke jalan yang benar), agar mereka bertaubat dan meninggalkan maksiat serta dosa yang ada pada mereka.
Sedangkan dalam QS Asy-Syuura ayat 30, Allah Swt berfirman: “Dan apa
saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan
tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar.”
Terhadap ayat ini, Ash-Shabuni menjelaskan: Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri,
apa yang menimpa kalian wahai umat manusia berupa musibah jiwa atau
harta adalah karena maksiat yang kalian lakukan. Imam Jalalain berkata,
Allah menyebutkan ‘tangan’ sebab kebanyakan perbuatan dilakukan oleh
tangan.
dan Allah memaafkan sebagian besar. Maksudanya adalah Allah
memaafkan sebagian besar dosa, sehingga tidak menyiksa mereka karena
dosa-dosa itu. Seandainya Allah menyiksa kalian karena apa yang kalian
lakukan, tentu kalian binasa. Dalam hadits disebutkan, “Anak Adam
tidak tertimpa cakaran kayu atau terpelesetnya telapak kaki maupun
bergetarnya otot, kecuali karena dosa. Dan apa yang dimaafkan Allah
Adalah lebih banyak." (Ibn Katsir menyatakan hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim dari Hasan sebagai hadits mursal).
Dari dua ayat ini secara jelas dan gamblang dapat dipahami bahwa
terjadinya musibah adalah karena kemaksiatan yang dilakukan oleh umat
manusia.
Pemahaman Sahabat terhadap Musibah
Lantas, bagaimana pemahaman sahabat terhadap bencana?. Apakah mereka
juga memahami bencana sebagai buah dari kemaksiatan atau seperti yang
banyak dipahami kebanyakan orang pada zaman sekarang bahwa bencana
hanyalah fenomena alam?.
Umar bin Khattab sebagaimana yang disebutkan di awal, jelas menyatakan
bahwa bencana (gempa) adalah akibat kemaksiatan yang dilakukan penduduk
Madinah. Sahabat Ka’ab bin Malik mempunyai pendapat yang mirip dengan
Umar bin Khattab. “Tidaklah bumi bergoncang kecuali karena ada
maksiat-maksiat yang dilakukan di atasnya. Bumi gemetar karena takut
Rab-nya azza wajalla melihatnya”, kata Kaab.
Ka’ab menyebut bahwa goncangan bumi adalah bentuk gemetarannya bumi
karena takut kepada Allah yang Maha Melihat kemaksiatan dilakukan di
atas bumi-Nya.
Bagaimana dengan pendapat ummul mukminin Aisyah ra?.
Suatu saat Anas bin Malik bersama seseorang lainnya mendatangi Aisyah.
Orang yang bersama Anas itu bertanya kepada Aisyah: Wahai Ummul Mukminin
jelaskan kepadaku tentang gempa. Aisyah menjelaskan, “Jika mereka telah
menghalalkan zina, meminum khamar dan memainkan musik. Allah azza
wajalla murka di langit-Nya dan berfirman kepada bumi: "goncanglah
mereka. Jika mereka taubat dan meninggalkan (dosa), atau jika tidak, Dia
akan menghancurkan mereka.
Orang itu bertanya kembali: Wahai Ummul Mukminin, apakah itu adzab bagi
mereka?. Aisyah menjawab, “Nasehat dan rahmat bagi mukminin. Adzab dan
kemurkaan bagi kafirin.” Anas berkata: Tidak ada perkataan setelah
perkataan Rasul yang paling mendatangkan kegembiraan bagiku melainkan
perkataan ini.
Sangat jelas penjelasan Ummul Mukminin Aisyah tentang penyebab
terjadinya gempa. Tiga kemaksiatan yang semuanya marak pada saat ini.
Khusus untuk dosa yang pertama, Aisyah menggunakan kata istabahu yang
artinya masyarakat telah menganggap zina itu mubah [lazim]. Zina tidak
hanya dilakukan, tetapi telah dianggap mubah. Dari ucapan, tindakan,
kebijakan sebuah masyarakat boleh dibaca bahwa mereka yang telah
meremehkan dosa zina, memang layak dihukum dengan gempa.
Soal khamar (minuman keras), di negeri ini minuman haram, najis dan
perbuatan syetan itu malah dilegalisasi dengan Keppres No. 3/1997.
Akibatnya, minuman keras dengan kadar alkohol dibawah 5% kini bebas
beredar di swalayan-swalayan kecil di pinggir jalan seperti di Alfamaret
dan Indomaret. Anehnya, beberapa daerah yang memberlakukan Perda Anti
Miras yang melarang peredaran Miras secara keseluruhan malah dianggap
bertentangan dengan Keppres tersebut dan diminta oleh Kemendagri agar
dicabut.
Soal musik. Industri musik di tanah air terus menggurita. Bukan hanya
dari dalam negeri, musik-musik luar negeri juga membanjiri masyarakat.
Konser-konser diselenggarakan. Bahkan dalam waktu dekat ini, akan
diundang datang ke Indonesia seorang penyanyi ikon pornografi di AS
sekaligus penyembah syetan, Lady Gaga. Demikian pula dengan serbuan boy
band-boy band dari Korea yang seolah mampu menghipnotis sebagian besar
putra-putri kaum muslimin. Pertunjukan mereka amatlah diminati. Bahkan
penjualan tiket untuk konser mereka telah ludes beberapa bulan sebelum
konser digelar. Padahal harga tiketnya juga tidak murah.
Ya, inilah semua kemaksiatan yang terjadi di negeri ini sebagaimana
dikatakan ummul mukminin Aisyah ra. Belum lagi kemaksiatan yang lebih
besar dari itu. Riba yang dilakukan oleh negara karena membayar cicilan
bunga utang dalam jumlah ratusan triliyun, korupsi para penyelenggara
negara hingga rencana menaikkan harga BBM. Semua itu adalah bentuk
kemaksiatan dan kezhaliman yang dilakukan oleh pemerintah yang mampu
mengundang bencana.
Pantaslah kalau Allah Swt terus menerus memberikan musibah kepada bangsa
ini. Karena ternyata satu musibah saja tidak cukup membuat bangsa ini
sadar dan bertaubat kepada-Nya. Selama kemaksiatan terus merajalela di
permukaan bumi Indonesia, selama itu pula negeri ini akan terus
dirundung musibah. Maka segeralah bertaubat.
Apa yang Harus Dilakukan?
Imam Ibnul Qoyyim dalam kitab Al-Jawab Al-Kafy mengungkapkan,
"Dan terkadang Allah menggetarkan bumi dengan guncangan yang dahsyat,
menimbulkan rasa takut, khusyuk, rasa ingin kembali dan tunduk kepada
Allah, serta meninggalkan kemaksiatan dan penyesalan atas kekeliruan
manusia. Di kalangan Salaf, jika terjadi gempa bumi mereka berkata,
'Sesungguhnya Tuhan sedang menegur kalian'.''
Khalifah Umar bin Abdul Aziz tak tinggal diam saat terjadi gempa bumi
pada masa kepemimpinannya. Ia segera mengirim surat kepada seluruh wali
negeri. Inilah isi surat Khalifah Umar bin Abdul Azis setelah terjadi
bencana: Amma ba'du, sesungguhnya gempa ini adalah teguran
Allah kepada hamba-hamba-Nya, dan saya telah memerintahkan kepada
seluruh negeri untuk keluar pada hari tertentu, maka barangsiapa yang
memiliki harta hendaklah bersedekah dengannya."
"Allah berfirman, 'Sungguh beruntunglah orang yang membersihkan diri
(dengan tobat ataupun zakat). Lalu, dia mengingat nama Tuhannya, lalu
ia sembahyang." (QS Al-A'laa [87]: 14-15). Lalu katakanlah apa yang diucapkan Adam AS (saat terusir dari surga), 'Ya
Rabb kami, sesungguhnya kami menzalimi diri kami dan jika Engkau tak
jua ampuni dan menyayangi kami, niscaya kami menjadi orang-orang yang
merugi."
"Dan katakan (pula) apa yang dikatakan Nuh AS, 'Jika Engkau tak mengampuniku dan merahmatiku, aku sungguh orang yang merugi'. Dan katakanlah doa Yunus AS, 'La ilaha illa anta, Subhanaka, Tiada Tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim'."
Jika saja kedua Umar (Umar bin Khattab dan Umar bin Abdul Azis) saat ini
bersama kita, mereka tentu akan marah dan menegur dengan keras, karena
rentetan "peringatan" Allah itu tidak kita hiraukan bahkan cenderung
diabaikan. Maka, sebelum Allah menegur kita lebih keras lagi, inilah
saatnya kita menjawab peringatannya-Nya. Labbaika Ya Allah, kami kembali kepada-Mu. Insya Allah.
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 02 Februari 2013
Muslimah Sejati Bergaul Secara Syar’i
Bergaul
dan memiliki banyak teman adalah fitrah setiap manusia, tak terkecuali
bagi para muslimah. Allah SWT pun menyampaikan hal ini dalam firman-Nya,
“Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa. Sungguh Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti.” (QS. Al Hujurat:13)
Pergaulan dalam Islam
Dalam Islam, adab bergaul sangat diperhatikan. Betapa pentingnya adab dalam begaul, hingga Allah SWT mengutus Rasulullah saw untuk memberikan teladan dalam bergaul dengan sesama manusia.
Dari Aisyah ra. ketika ditanya akhlaq Nabi saw, beliau menjawab, “Akhlaq beliau (Nabi saw) adalah Al Qur’an.” Kemudian Aisyah ra. membacakan ayat yang artinya, “Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (QS. Al Qalam:4)
Rasulullah saw bersabda,
“Bertaqwalah kalian kepada Allah di mana pun kamu berada, ikutilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik niscaya akan menghapuskannya, dan pergaulilah manusia dengan akhlaq yang baik.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, dan Al-Hakim)
Hubungan yang terjadi antara seseorang dengan seorang yang lain tidak hanya berdasarkan nasab, tapi juga berdasarkan ikatan lain. Akan tetapi, di antara banyak ragam ikatan dalam hubungan antar manusia, yang paling mulia dan tinggi nilainya adalah ikatan berdasarkan aqidah. Kekuatan ikatan aqidah melebihi ikatan yang terjalin berdasarkan hubungan darah.
Allah SWT berfirman,
“Dan Dia (Allah) yang mempersatukan hati mereka (orang yang beriman). Walaupun kamu menginfak-kan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka. Sungguh, Dia Mahaperkasa Mahabijaksana.” (QS. Al-Anfal:63)
Hubungan yang terjadi atas kesatuan aqidah merupakan karunia terbaik dari Allah SWT yang harus senantiasa dijaga. Dengan ikatan ini, interaksi yang terjalin karena alasan lainnya dapat dihilangkan. Tidak ada lagi fanatisme kesukuan atau golongan yang merendahkan orang lain di luar kelompoknya. Hubungan ‘untung-rugi’ dengan latar belakang ekonomi tak lagi diperhitungkan. Permusuhan dan kebencian karena perbedaan dapat dimusnahkan lalu berganti dengan keikhlasan karena Allah SWT. Bukankah ini adalah nikmat yang luar biasa.
Bergaul yang Membawa ke Surga
Niat yang Lurus
Niat kita dalam bergaul pun mutlak harus diperhatikan. Karena jelas, hal itu akan menentukan berjalannya sebuah pertemanan antara seseorang dengan orang lain.
Berkenaan dengan niat, Rasulullah saw bersabda,
“Sesungguhnya amal perbuatan tergantung pada niat, dan sesungguhnya setiap orang akan mendapatkan sesuai apa yang ia niatkan.” (HR. Bukhari-Muslim)
Merujuk pada hadits di atas, dalam berteman hendaknya kita berniat semata-mata karena Allah. Yaitu, menjadikan kawan sebagai penolong dalam urusan dunia maupun akhirat. Dan tentu saja juga sebagai pendukung dalam menaati hukum-hukum Allah agar selamat di dunia dan di akhirat.
“Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa. Sungguh Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti.” (QS. Al Hujurat:13)
Pergaulan dalam Islam
Dalam Islam, adab bergaul sangat diperhatikan. Betapa pentingnya adab dalam begaul, hingga Allah SWT mengutus Rasulullah saw untuk memberikan teladan dalam bergaul dengan sesama manusia.
Dari Aisyah ra. ketika ditanya akhlaq Nabi saw, beliau menjawab, “Akhlaq beliau (Nabi saw) adalah Al Qur’an.” Kemudian Aisyah ra. membacakan ayat yang artinya, “Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (QS. Al Qalam:4)
Rasulullah saw bersabda,
“Bertaqwalah kalian kepada Allah di mana pun kamu berada, ikutilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik niscaya akan menghapuskannya, dan pergaulilah manusia dengan akhlaq yang baik.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, dan Al-Hakim)
Hubungan yang terjadi antara seseorang dengan seorang yang lain tidak hanya berdasarkan nasab, tapi juga berdasarkan ikatan lain. Akan tetapi, di antara banyak ragam ikatan dalam hubungan antar manusia, yang paling mulia dan tinggi nilainya adalah ikatan berdasarkan aqidah. Kekuatan ikatan aqidah melebihi ikatan yang terjalin berdasarkan hubungan darah.
Allah SWT berfirman,
“Dan Dia (Allah) yang mempersatukan hati mereka (orang yang beriman). Walaupun kamu menginfak-kan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka. Sungguh, Dia Mahaperkasa Mahabijaksana.” (QS. Al-Anfal:63)
Hubungan yang terjadi atas kesatuan aqidah merupakan karunia terbaik dari Allah SWT yang harus senantiasa dijaga. Dengan ikatan ini, interaksi yang terjalin karena alasan lainnya dapat dihilangkan. Tidak ada lagi fanatisme kesukuan atau golongan yang merendahkan orang lain di luar kelompoknya. Hubungan ‘untung-rugi’ dengan latar belakang ekonomi tak lagi diperhitungkan. Permusuhan dan kebencian karena perbedaan dapat dimusnahkan lalu berganti dengan keikhlasan karena Allah SWT. Bukankah ini adalah nikmat yang luar biasa.
Bergaul yang Membawa ke Surga
Niat yang Lurus
Niat kita dalam bergaul pun mutlak harus diperhatikan. Karena jelas, hal itu akan menentukan berjalannya sebuah pertemanan antara seseorang dengan orang lain.
Berkenaan dengan niat, Rasulullah saw bersabda,
“Sesungguhnya amal perbuatan tergantung pada niat, dan sesungguhnya setiap orang akan mendapatkan sesuai apa yang ia niatkan.” (HR. Bukhari-Muslim)
Merujuk pada hadits di atas, dalam berteman hendaknya kita berniat semata-mata karena Allah. Yaitu, menjadikan kawan sebagai penolong dalam urusan dunia maupun akhirat. Dan tentu saja juga sebagai pendukung dalam menaati hukum-hukum Allah agar selamat di dunia dan di akhirat.
Dengan niat yang lurus ini, semoga Allah membimbing kita pada sahabat yang senantiasa membawa kebaikan dunia dan akhirat.
Pilih-pilih Teman
Pilih-pilih teman biasanya diidentikan dengan kesombongan. Maunya berteman dengan si anu, dan tidak mau dekat-dekat dengan si anu.
Benar, jika dalam urusan pilih-pilih teman ini kita sandarkan pada urusan dunia yang sifatnya materialistis. Misalnya, apakah kita berteman dengan seseorang karena dia kaya, cantik, punya status sosial yang tinggi, dan lain sebagainya. Tentu saja bukan karena hal-hal demikian kita diharuskan dalam memilih teman.
Islam menganjurkan agar kita hati-hati dalam memilih teman dengan tujuan agar kita tidak berteman melainkan dengan orang-orang mukmin yang shalih dan taat beragama. Sebab, tak dapat dipungkiri, teman cepat atau lambat akan memberikan pengaruh terhadap diri kita. Tabiat dan watak seseorang dapat terbentuk melalui pergaulan dan interaksi dengan lingkungan sekitar.
Rasulullah saw bersabda,
“Sesungguhnya perumpamaan teman baik dengan teman buruk adalah seperti penjual minyak wangi dan pandai besi. Adapun penjual minyak wangi maka dia akan menghadiahkannya kepadamu atau kamu membeli darinya atau kamu akan mendapat aroma wanginya. Adapun pandai besi maka boleh jadi ia akan membakar tubuhmu atau pakaianmu atau engkau akan mencium bau busuk darinya.” (HR. Bukhari-Muslim)
Lalu, bagaimana sebenarnya ciri teman yang baik? Yang pertama, tentunya ia haruslah seorang mukmin sebagaimana sabda Rasulullah saw,
“Janganlah kamu mengambil teman kecuali yang mukmin...” (HR. At-Tirmidzi dan Abu Dawud)
Karakteristik orang mukmin adalah sebagaimana yang digambarkan oleh Allah dalam firman-Nya,
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman (mukmin) adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetar hatinya dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka bertambah (kuat) imannya dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal.” (QS. Al Anfal:2)
Yang kedua, ciri teman yang baik adalah yang berakhlaq mulia. Sangat penting menilai akhlaq seorang teman, sebab tabiat manusia memiliki kecenderungan untuk meniru orang yang ada di dekatnya. Ibnu Taimiyah berkata, “Sesungguhnya manusia itu seperti sekawanan burung, selalu tertarik untuk saling meniru satu sama lainnya.”
Akhlaq yang mulia mendatangkan kecintaan Allah dan juga kasih sayang manusia. Rasulullah saw bersabda,
"Kaum mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaqnya, yang paling lapang dadanya, yang mudah bersahabat dan disahabati. Tidak ada kebaikan pada orang yang tidak bersahabat dan tidak disahabati.” (HR. Ath-Thabrani)
Pahami Hakikat Persaudaraan
Kunci utama dalam membina persahabatan adalah niat yang lurus untuk membangun ketaatan dan meninggalkan kemaksiatan kepada Allah dengan memegang aqidah dan pedoman yang haq. Jika aqidah telah merasuk ke dalam hati maka akan membawa perasaan cinta dan bersaudara karena Allah semata.
Rasulullah saw bersabda,
“Seorang lelaki mengunjungi saudaranya (seiman) di kota lain. Lalu Allah mengirim seorang malaikat untuk mengikuti perjalanannya. Tatkala bertemu dengannya malaikat itu bertanya, ‘Kemanakah engkau hendak pergi?’ Ia menjawab, ‘Aku hendak mengunjungi saudaraku di kota ini.’ Malaikat itu bertanya lagi, ‘Adakah suatu keuntungan yang engkau harapkan darinya?’ Ia menjawab, ‘Tidak ada, hanya saja aku mencintainya karena Allah.’ Maka, malaikat itu berkata, ‘Sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu untuk menyampaikan bahwa Allah mencintaimu sebagaimana engkau mencintainya karena Allah.’” (HR. Bukhari-Muslim)
Tidak terbantahkan lagi bahwa kunci yang paling penting dalam pertemanan adalah menghadirkan Allah dalam landasan hubungan dan kasih sayang di antara mereka. Sebab, Allah menetapkan cinta-Nya bagi orang yang saling mencintai karena Dia.
Agar Pergaulan Tak Jadi Sesalan
Pada akhirnya, kita akan mendapati bahwa teman yang tidak baik akan membawa temannya ke dalam keburukan di dunia dan mendorong ke dalam neraka di akhirat.
Teman
yang jahat akan membawa temannya ke jurang bencana dan mengantarkannya
ke neraka jahanam. Dan di akhirat mereka akan berubah menjadi musuh yang
saling menjatuhkan.Pilih-pilih Teman
Pilih-pilih teman biasanya diidentikan dengan kesombongan. Maunya berteman dengan si anu, dan tidak mau dekat-dekat dengan si anu.
Benar, jika dalam urusan pilih-pilih teman ini kita sandarkan pada urusan dunia yang sifatnya materialistis. Misalnya, apakah kita berteman dengan seseorang karena dia kaya, cantik, punya status sosial yang tinggi, dan lain sebagainya. Tentu saja bukan karena hal-hal demikian kita diharuskan dalam memilih teman.
Islam menganjurkan agar kita hati-hati dalam memilih teman dengan tujuan agar kita tidak berteman melainkan dengan orang-orang mukmin yang shalih dan taat beragama. Sebab, tak dapat dipungkiri, teman cepat atau lambat akan memberikan pengaruh terhadap diri kita. Tabiat dan watak seseorang dapat terbentuk melalui pergaulan dan interaksi dengan lingkungan sekitar.
Rasulullah saw bersabda,
“Sesungguhnya perumpamaan teman baik dengan teman buruk adalah seperti penjual minyak wangi dan pandai besi. Adapun penjual minyak wangi maka dia akan menghadiahkannya kepadamu atau kamu membeli darinya atau kamu akan mendapat aroma wanginya. Adapun pandai besi maka boleh jadi ia akan membakar tubuhmu atau pakaianmu atau engkau akan mencium bau busuk darinya.” (HR. Bukhari-Muslim)
Lalu, bagaimana sebenarnya ciri teman yang baik? Yang pertama, tentunya ia haruslah seorang mukmin sebagaimana sabda Rasulullah saw,
“Janganlah kamu mengambil teman kecuali yang mukmin...” (HR. At-Tirmidzi dan Abu Dawud)
Karakteristik orang mukmin adalah sebagaimana yang digambarkan oleh Allah dalam firman-Nya,
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman (mukmin) adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetar hatinya dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka bertambah (kuat) imannya dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal.” (QS. Al Anfal:2)
Yang kedua, ciri teman yang baik adalah yang berakhlaq mulia. Sangat penting menilai akhlaq seorang teman, sebab tabiat manusia memiliki kecenderungan untuk meniru orang yang ada di dekatnya. Ibnu Taimiyah berkata, “Sesungguhnya manusia itu seperti sekawanan burung, selalu tertarik untuk saling meniru satu sama lainnya.”
Akhlaq yang mulia mendatangkan kecintaan Allah dan juga kasih sayang manusia. Rasulullah saw bersabda,
"Kaum mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaqnya, yang paling lapang dadanya, yang mudah bersahabat dan disahabati. Tidak ada kebaikan pada orang yang tidak bersahabat dan tidak disahabati.” (HR. Ath-Thabrani)
Pahami Hakikat Persaudaraan
Kunci utama dalam membina persahabatan adalah niat yang lurus untuk membangun ketaatan dan meninggalkan kemaksiatan kepada Allah dengan memegang aqidah dan pedoman yang haq. Jika aqidah telah merasuk ke dalam hati maka akan membawa perasaan cinta dan bersaudara karena Allah semata.
Rasulullah saw bersabda,
“Seorang lelaki mengunjungi saudaranya (seiman) di kota lain. Lalu Allah mengirim seorang malaikat untuk mengikuti perjalanannya. Tatkala bertemu dengannya malaikat itu bertanya, ‘Kemanakah engkau hendak pergi?’ Ia menjawab, ‘Aku hendak mengunjungi saudaraku di kota ini.’ Malaikat itu bertanya lagi, ‘Adakah suatu keuntungan yang engkau harapkan darinya?’ Ia menjawab, ‘Tidak ada, hanya saja aku mencintainya karena Allah.’ Maka, malaikat itu berkata, ‘Sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu untuk menyampaikan bahwa Allah mencintaimu sebagaimana engkau mencintainya karena Allah.’” (HR. Bukhari-Muslim)
Tidak terbantahkan lagi bahwa kunci yang paling penting dalam pertemanan adalah menghadirkan Allah dalam landasan hubungan dan kasih sayang di antara mereka. Sebab, Allah menetapkan cinta-Nya bagi orang yang saling mencintai karena Dia.
Agar Pergaulan Tak Jadi Sesalan
Pada akhirnya, kita akan mendapati bahwa teman yang tidak baik akan membawa temannya ke dalam keburukan di dunia dan mendorong ke dalam neraka di akhirat.
Allah SWT berfirman,
“Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertaqwa.” (QS.Az Zukhruf:67)
Seorang mukmin itu ibarat cermin bagi mukmin lainnya. Ketika ia melihat sahabatnya maka seolah-olah ia melihat dirinya sendiri.
Rasulullah saw bersabda,
“Mukmin itu ibarat cermin bagi mukmin lainnya yang senantiasa mencegah saudaranya dari kebangkrutan dan senantiasa melindunginya dari marabahaya.” (HR. Abu Dawud)
Teman yang baik akan mencegah kita dari kebangkrutan. Ia memberi nasehat berharga saat kita khilaf, menjaga dan membela kehormatan kita tatkala kita tak berada di sampingnya. Menghibur kita tatkala sedih dan membantu kita saat membutuhkan pertolongan. Walalupun tak berhubungan darah, tidak ada keuntungan harta yang diperoleh, dan tidak ada ikatan duniawi. Tujuannya, hanya ridho Allah di dunia dan di akhirat. Wallahu’alam bishowwab.
Kamis, 24 Januari 2013
Irena Handono: Paus Benedictus XVI Akui 25 Desember Bukan Hari Natal
Jakarta
(SI ONLINE)- Kabar mengejutkan justru datang dari Pusat Pemerintahan
Katolik Dunia, Vatican. Pemimpin Tertinggi Gereja Katolik Roma, Paus
Benedictus XIV mengakui, hari kelahiran Yesus Kristus (Nabi Isa AS) atau
Hari Natal bukan tanggal 25 Desember sebagaimana yang selama ini
diperingati umat Kristen di seluruh dunia.
Namun Paus sendiri juga tidak mengetahui kapan tepatnya hari kelahiran Nabi Isa AS yang difitnah dan dijadikan sebagai anak Tuhan itu. Padahal dalam Islam, Nabi Isa AS adalah Nabi dan Rasul yang mengajarkan ajaran Tauhid bukan ajaran Trinitas yang penuh dengan kepalsuan dan kebohongan tersebut.
“Paus Benedictus XVI sendiri mengakui Hari Natal (tanggal kelahiran Yesus) bukan tanggal 25 Desember, sehingga Yesus tidak lahir pada tanggal 25 Desember,” ungkap Kristolog Hj Irena Handono dalam diskusi mengenai Kristologi di Kantor Pusat Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) Jakarta, Selasa (22/1). Diskusi dibuka Wakil Ketua Badan Kerjasama Pondok Pesantren se-Indonesia (BKsPPI), KH Cholil Ridwan Lc.
Direktur Irena Center yang mengaku pernah berkunjung ke Vatican itu menyebutkan bukti pernyataan Paus itu tertuang dalam buku: “Jesus of Nazareth: The Infancy Narratives”, yang dirilis pada 25 November 2012 lalu di Vatican. Dengan demikian, kalau selama ini umat Kristen merayakan Natal pada 25 Desember, berarti salah besar.
Di kalangan para pemimpin Kristen sendiri sebenarnya terjadi keragu-raguan. Sebab ternyata penetapan Hari Natal 25 Desember merupakan kesepakatan para pemimpin Gereja waktu itu, karena mereka sendiri tidak mengetahui kapan kelahiran Yesus (Nabi Isa AS) tersebut.
“Bahkan mereka juga berbeda pendapat, dimana Yesus dilahirkan, apakah di kandang domba, goa ataukah dibawah pohon cemara sebagaimana dilambangkan dengan pohon Natal selama ini,” ujar Hj Irena Handono.
Kelahiran Nabi Isa AS
Menurut Hj Irena Handono, Kitab Suci Al Qur’an telah menerangkan dengan sangat tepat dan benar akan kelahiran Nabi Isa AS, seperti yang dijelaskan pada Surat Maryam (19) ayat 23, 24 dan 25.
“Maka tatkala rasa sakit akan melahirkan anak memaksa ia (bersandar) pada pangkal pohon kurma. Dia berkata: “Aduhai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi barang yang tidak berarti, lagi dilupakan.(23). Maka Jibril menyerunya dari tempat yang rendah: “Janganlah kau bersedih hati, sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu. (24). Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu.” (25).
Dengan keterangan Al Qur’an yang pasti benar ini, maka tertolaklah semua argumen umat Kristen tentang Hari Natal, dimana dikatkan Yesus lahir pada 25 Desember di Betlehem pada musim salju. Padahal pada musim dingin, pohon kurna jelas tidak mungkin berbuah, dan hanya akan berbuah pada musim panas yang terjadi antara akhir Juni sampai akhir September.
Didalam Al Qur’an juga disebutkan Siti Maryam (Ibu Nabi Isa AS), ketika akan melahirkan bersandar di pangkal pohon kurma dan dibawahnya ada sungai yang mengalir. Hal itu menunjukkan kelahiran Nabi Isa AS bukan pada musim dingin karena sungainya tidak beku.
Demikian pula kalau selama ini ada anggapan Nabi Isa AS lahir dibawah pohon cemara, jelas suatu kebohongan besar. Sebab pohon cemara tidak mungkin hidup di Yerusalem. Al Qur’an telah menyebutkan Nabi Isa AS lahir dibawah pohon kurma, bukan cemara.
“Jadi yang benar adalah Yesus lahir dibawah pohon kurma pada musim panas, bukan lahir dibawah pohon cemara atau kandang domba atau goa. Yesus lahir bukan pada musim dingin sebagaimana selama ini diperingati sebagai hari Natal, tetapi pada musim panas di Yerusalem,” tegas mantan biarawati yang telah menghasilkan banyak buku mengenai Kristologi tersebut. (*)
Namun Paus sendiri juga tidak mengetahui kapan tepatnya hari kelahiran Nabi Isa AS yang difitnah dan dijadikan sebagai anak Tuhan itu. Padahal dalam Islam, Nabi Isa AS adalah Nabi dan Rasul yang mengajarkan ajaran Tauhid bukan ajaran Trinitas yang penuh dengan kepalsuan dan kebohongan tersebut.
“Paus Benedictus XVI sendiri mengakui Hari Natal (tanggal kelahiran Yesus) bukan tanggal 25 Desember, sehingga Yesus tidak lahir pada tanggal 25 Desember,” ungkap Kristolog Hj Irena Handono dalam diskusi mengenai Kristologi di Kantor Pusat Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) Jakarta, Selasa (22/1). Diskusi dibuka Wakil Ketua Badan Kerjasama Pondok Pesantren se-Indonesia (BKsPPI), KH Cholil Ridwan Lc.
Direktur Irena Center yang mengaku pernah berkunjung ke Vatican itu menyebutkan bukti pernyataan Paus itu tertuang dalam buku: “Jesus of Nazareth: The Infancy Narratives”, yang dirilis pada 25 November 2012 lalu di Vatican. Dengan demikian, kalau selama ini umat Kristen merayakan Natal pada 25 Desember, berarti salah besar.
Di kalangan para pemimpin Kristen sendiri sebenarnya terjadi keragu-raguan. Sebab ternyata penetapan Hari Natal 25 Desember merupakan kesepakatan para pemimpin Gereja waktu itu, karena mereka sendiri tidak mengetahui kapan kelahiran Yesus (Nabi Isa AS) tersebut.
“Bahkan mereka juga berbeda pendapat, dimana Yesus dilahirkan, apakah di kandang domba, goa ataukah dibawah pohon cemara sebagaimana dilambangkan dengan pohon Natal selama ini,” ujar Hj Irena Handono.
Kelahiran Nabi Isa AS
Menurut Hj Irena Handono, Kitab Suci Al Qur’an telah menerangkan dengan sangat tepat dan benar akan kelahiran Nabi Isa AS, seperti yang dijelaskan pada Surat Maryam (19) ayat 23, 24 dan 25.
“Maka tatkala rasa sakit akan melahirkan anak memaksa ia (bersandar) pada pangkal pohon kurma. Dia berkata: “Aduhai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi barang yang tidak berarti, lagi dilupakan.(23). Maka Jibril menyerunya dari tempat yang rendah: “Janganlah kau bersedih hati, sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu. (24). Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu.” (25).
Dengan keterangan Al Qur’an yang pasti benar ini, maka tertolaklah semua argumen umat Kristen tentang Hari Natal, dimana dikatkan Yesus lahir pada 25 Desember di Betlehem pada musim salju. Padahal pada musim dingin, pohon kurna jelas tidak mungkin berbuah, dan hanya akan berbuah pada musim panas yang terjadi antara akhir Juni sampai akhir September.
Didalam Al Qur’an juga disebutkan Siti Maryam (Ibu Nabi Isa AS), ketika akan melahirkan bersandar di pangkal pohon kurma dan dibawahnya ada sungai yang mengalir. Hal itu menunjukkan kelahiran Nabi Isa AS bukan pada musim dingin karena sungainya tidak beku.
Demikian pula kalau selama ini ada anggapan Nabi Isa AS lahir dibawah pohon cemara, jelas suatu kebohongan besar. Sebab pohon cemara tidak mungkin hidup di Yerusalem. Al Qur’an telah menyebutkan Nabi Isa AS lahir dibawah pohon kurma, bukan cemara.
“Jadi yang benar adalah Yesus lahir dibawah pohon kurma pada musim panas, bukan lahir dibawah pohon cemara atau kandang domba atau goa. Yesus lahir bukan pada musim dingin sebagaimana selama ini diperingati sebagai hari Natal, tetapi pada musim panas di Yerusalem,” tegas mantan biarawati yang telah menghasilkan banyak buku mengenai Kristologi tersebut. (*)
Kamis, 17 Januari 2013
Hare Gene Pacaran Nggak ML? Ahh Macak Ciih...
Assalamuallaikum, kita jumpa lagi, friend. Kali ini kita mau
bawa tema yang sedikit horor, tapi kudu kamu tahu. Masih sekitar cinta-
cintaan remaja, kumplit dengan tragedi dan kasusnya. Kali ini kita mau
ngulik tentang fenomena anak- anak pacaran yang udah pada ML alias
making love alias melakukan hubungan di luar nikah atau bahasa
"kerennya" berzina. Ups, jangan kaget ya!! ini nyata loh.
Seperti kamu tahu, pacaran udah jadi hal yang wajar banget buat teman- teman kita diluaran sana. Ada yang bilang malah, kalau nggak pacaran, nggak berasa anak muda banget. Banyak yang ngeles kalo pacaran mereka tuh "sehat" alias nggak pake acara menuju nyerempet "resricted area". Hadeehh.. friend, nggak usah muna' deh. Kita mah semua manusia biasa, yang punya nafsu dan akal. Nah, si Nafsu itu seringnya suka memprovokasi kalo lagi berdua-duaan sama yang bukan mahram. Parahnya lagi kalo si nafsu udah menguasai, pikiran alias akal sehat kita bakal macet total. Hare Gene Pacaran Tanpa ML? Ahh Macak Ciih...
Kejadian kaya' gini nggak sekedar omong kosong, friend. Ambil contoh aja wilayah Yogyakarta. Sebuah penelitian telah dilakukan oleh lembaga studi cinta dan kemanusiaan serta pusat pelatihan bisnis dan humaniora, dikota yang rame dengan mahasiswa ini. Hasil penelitian itu itu benar- benar membuat shock, friend. Hampir 97,05 % persen mahasiswi di Yogyakarta sudah hilang keperawanannya pas waktu kuliah. Selebihnya, mereka yang nggak ML paling "PDKT" ke arah sana lewat gandengan tangan, kissing, dll... (* sensor!!nggak enak disebutin disini) Astagfirullah...
Itulah kisah nyata yang kudu kamu tahu, tentang salah satu kesalahan FATAL dari pacaran. Kegiatan yang katanya mengasyikkan itu, ternyata banyak membawa bencana. Terbukti zina jadi meraja lela. Tapi yang paling aneh, mereka melakukan hubungan terlarang itu pake alasan pembuktian cinta, hah!! yang bener aja!!
Friend, gimana nasib bangsa ini selanjutnya kalo yang muda udah pada demen berzina, dan menganggap itu hal paling standart banget?
So, kalo kalian nggak mau hidup ini tambah ribet karena efek pacaran, lebih baik jauh- jauh deh dari aktifitas maksiat ini. Dan khusus buat kalian para cewek- cewek, hati- hati deh!! kalau sudah tekdung alias MBA maka yang paling rugi adalah kamu loh. Jangan gampang terbuai kata-kata cinta yang memabukkan. Seorang cowok yang benar- benar mencintai kamu akan menikahi kamu, dan nggak akan sekedar membuat kamu "studi banding" dengan merenggut keperawananmu.
Coba pikirkan tentang masa depanmu, pikirkan juga bagaimana sedihnya orang tuamu jika tahu tentang kenakalan anak- anaknya. Pikirkan juga gimana malunya mereka jika orang lain tahu, dan aib itu akan kamu bawa seumur hidup kamu.
Dan buat kamu para cowok- cowok, jangan gampang tergoda dengan rayuan para cewek- cewek yang nggak pinter menjaga dirinya. Tunjukkan kalo kamu itu gentlemen dengan menikahi cewek yang kamu cintai, dan memperlakukan mereka yang suci dengan suci. Setuju?
(NayMa/voa-islam.com)
Seperti kamu tahu, pacaran udah jadi hal yang wajar banget buat teman- teman kita diluaran sana. Ada yang bilang malah, kalau nggak pacaran, nggak berasa anak muda banget. Banyak yang ngeles kalo pacaran mereka tuh "sehat" alias nggak pake acara menuju nyerempet "resricted area". Hadeehh.. friend, nggak usah muna' deh. Kita mah semua manusia biasa, yang punya nafsu dan akal. Nah, si Nafsu itu seringnya suka memprovokasi kalo lagi berdua-duaan sama yang bukan mahram. Parahnya lagi kalo si nafsu udah menguasai, pikiran alias akal sehat kita bakal macet total. Hare Gene Pacaran Tanpa ML? Ahh Macak Ciih...
Kejadian kaya' gini nggak sekedar omong kosong, friend. Ambil contoh aja wilayah Yogyakarta. Sebuah penelitian telah dilakukan oleh lembaga studi cinta dan kemanusiaan serta pusat pelatihan bisnis dan humaniora, dikota yang rame dengan mahasiswa ini. Hasil penelitian itu itu benar- benar membuat shock, friend. Hampir 97,05 % persen mahasiswi di Yogyakarta sudah hilang keperawanannya pas waktu kuliah. Selebihnya, mereka yang nggak ML paling "PDKT" ke arah sana lewat gandengan tangan, kissing, dll... (* sensor!!nggak enak disebutin disini) Astagfirullah...
Itulah kisah nyata yang kudu kamu tahu, tentang salah satu kesalahan FATAL dari pacaran. Kegiatan yang katanya mengasyikkan itu, ternyata banyak membawa bencana. Terbukti zina jadi meraja lela. Tapi yang paling aneh, mereka melakukan hubungan terlarang itu pake alasan pembuktian cinta, hah!! yang bener aja!!
Friend, gimana nasib bangsa ini selanjutnya kalo yang muda udah pada demen berzina, dan menganggap itu hal paling standart banget?
So, kalo kalian nggak mau hidup ini tambah ribet karena efek pacaran, lebih baik jauh- jauh deh dari aktifitas maksiat ini. Dan khusus buat kalian para cewek- cewek, hati- hati deh!! kalau sudah tekdung alias MBA maka yang paling rugi adalah kamu loh. Jangan gampang terbuai kata-kata cinta yang memabukkan. Seorang cowok yang benar- benar mencintai kamu akan menikahi kamu, dan nggak akan sekedar membuat kamu "studi banding" dengan merenggut keperawananmu.
Coba pikirkan tentang masa depanmu, pikirkan juga bagaimana sedihnya orang tuamu jika tahu tentang kenakalan anak- anaknya. Pikirkan juga gimana malunya mereka jika orang lain tahu, dan aib itu akan kamu bawa seumur hidup kamu.
Dan buat kamu para cowok- cowok, jangan gampang tergoda dengan rayuan para cewek- cewek yang nggak pinter menjaga dirinya. Tunjukkan kalo kamu itu gentlemen dengan menikahi cewek yang kamu cintai, dan memperlakukan mereka yang suci dengan suci. Setuju?
(NayMa/voa-islam.com)
Bermimpi dan Bekerja…
Oleh: Muhaimin Iqbal
hidayatullah.com - ADA orang yang seharian bekerja, ada yang seharian bermimpi dan ada yang mengawali hari dengan bemimpi kemudian mengisi sisa harinya dengan bekerja untuk mewujudkan mimpinya. Salah satu dari tiga jenis orang ini pasti ada yang cocok dengan Anda, tetapi yang mana?
Perusahaan tempat Anda bekerja pasti menginginkan Anda menjadi orang jenis pertama, yaitu orang yang mengisi harinya dengan bekerja dan bekerja. Orang yang tidak berfikir neko-neko, waktu dan pikirannya terkooptasi penuh oleh dunia kerjanya sehingga tidak sempat berfikir yang lain.
Kalau toh mempunyai cita-cita, cita-citanya sebatas jenjang karir yang sudah diplot di instansi atau perusahaan tempatnya bekerja. Karena perusahaan atau instansi suka dengan orang yang seperti ini, mereka menyebut Anda sebagai karyawan atau pegawai yang berdedikasi tinggi.
Tidak ada yang salah dengan ini, bila ini memang pilihan Anda dengan sadar bahwa inilah yang hendak Anda lakukan sampai akhir karier Anda. Yang perlu Anda pikirkan tinggal bagaimana atau apa yang Anda akan lakukan ketika karier Anda berakhir? Ketika pengabdian Anda dipandang cukup sudah oleh perusahaan atau instansi tempat Anda bekerja? ketika dedikasi Anda sudah tidak diperlukan lagi!
Golongan kedua adalah orang yang bermimpi sepanjang hari. Dia tidak harus pengangguran, bisa saja dia punya pekerjaan full time yang menyibukkan fisik dia sepanjang hari - tetapi hati dia di tempat yang lain. Dia bekerja hanya untuk memperoleh gaji, status atau motif yang lain.
Dia memiliki mimpi-mimpi yang tidak nyambung dengan pekerjaannya, tetapi juga tidak punya keberanian untuk meninggalkan pekerjaan dan mewujudkan mimpi-mimpinya.
Orang jenis kedua ini biasanya nanggung, atasan tempat Anda bekerja mudah melihat Anda sebagai karyawan yang kurang berdedikasi. Sebabnya adalah Anda tidak terlalu excited dengan pekerjaan dan jenjang karier Anda, Anda punya mimpi yang lain.
Bila Anda masuk kategori orang yang kedua ini, Anda harus fair kepada tempat Anda bekerja dan juga pada diri Anda. Anda tidak bisa berlama-lama dengan kondisi mendua demikian, suatu saat Anda harus putuskan.
Anda bisa putuskan mimpi Anda, dan fokus pada pekerjaan Anda. Atau Anda putuskan pekerjaan Anda untuk mengejar mimpi-mimpi Anda. Bila yang pertama yang Anda pilih , maka Anda akan menjadi orang jenis pertama lengkap dengan konsekwensinya. Bila yang kedua yang Anda pilih, maka Anda akan menjadi orang jenis ketiga juga lengkap dengan resikonya.
Orang jenis ketiga ini adalah orang yang memulai harinya dengan mimpi, kemudia bekerja keras sepanjang sisa harinya untuk merealisasikan mimpinya.
Namanya juga mimpi, awalnya memang serba tidak jelas. Mimpi itu seperti snapshot – snapshot foto dari beberapa kejadian yang belum nyambung satu sama lain. Maka pekerjaan pertama Anda dengan mimpi Anda adalah merangkai snapshot-snapshot tersebut menjadi rangkaian foto yang menggambarkan sesuatu yang lebih jelas.
Bila gambaran tersebut sudah begitu jelas bagi Anda, itulah sudah terjadi metamorphosis dari mimpi Anda menjadi visi Anda. Tantangan berikutnya tinggal Anda bekerja keras lagi untuk menjabarkan visi menjadi strategi dan aksi.
Pada tahap implementasi ke strategi dan aksi inilah risiko demi resiko bermunculan. Betapa banyak ide cemerlang yang tidak menghasilkan apa-apa karena dia tidak dituangkan dalam strategy yang tepat dan aksi yang paripurna.
Resiko menjadi lebih besar lagi manakala apa yang Anda visikan adalah hasil proses ide kreatif untuk menghasilkan sesuatu yang unique, yang belum pernah dilakukan atau diciptakan oleh orang sebelumnya. Andalah orang pertama itu, Andalah yang babat alas untuk membuat peta wilayah baru – Anda harus siap diterkam harimau, dipatok ular dan digigit serangga ganas.
Resiko memang besar, tetapi bila Anda berhasil maka rasa puas dan syukur Anda insyaAllah juga lebih besar. Andalah pionir yang banyak-banyak dibutuhkan negeri ini untuk mengolah segala sumber daya yang melimpah, Andalah pahlawan yang dibutuhkan untuk menciptakan lapangan kerja dan mencegah kemiskinan di negeri yang mestinya kaya ini.
Maka beranilah bermimpi, tetapi tidak berhenti hanya bermimpi. Beranilah memulai dengan bermimpi tetapi kemudian isilah hari-hari Anda dengan kerja keras untuk mewujudkan mimpi itu. InsyaAllah.*
Penulis adalah Direktur Gerai Dinar dan kolumnis hidayatullah.com
Langganan:
Postingan (Atom)