Sabtu, 02 Februari 2013

Muslimah Sejati Bergaul Secara Syar’i

Bergaul dan memiliki banyak teman adalah fitrah setiap manusia, tak terkecuali bagi para muslimah. Allah SWT pun menyampaikan hal ini dalam firman-Nya,

“Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu  dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa. Sungguh Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti.”  (QS. Al Hujurat:13)

Pergaulan dalam Islam

Dalam Islam, adab bergaul sangat diperhatikan. Betapa pentingnya adab dalam begaul, hingga Allah SWT mengutus Rasulullah saw untuk memberikan teladan dalam bergaul dengan sesama manusia.

Dari Aisyah ra. ketika ditanya akhlaq Nabi saw, beliau menjawab, “Akhlaq beliau (Nabi saw) adalah Al Qur’an.” Kemudian Aisyah ra. membacakan ayat yang artinya, “Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (QS. Al Qalam:4)

Rasulullah saw bersabda,

“Bertaqwalah kalian kepada Allah di mana pun kamu berada, ikutilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik niscaya akan menghapuskannya, dan pergaulilah manusia dengan akhlaq yang baik.”
(HR. Ahmad, Tirmidzi, dan Al-Hakim)

Hubungan yang terjadi antara seseorang dengan seorang yang lain tidak hanya berdasarkan nasab, tapi juga berdasarkan ikatan lain. Akan tetapi, di antara banyak ragam ikatan dalam hubungan antar manusia, yang paling mulia dan tinggi nilainya adalah ikatan berdasarkan aqidah. Kekuatan ikatan aqidah melebihi ikatan yang terjalin berdasarkan hubungan darah.

Allah SWT berfirman,

“Dan Dia (Allah) yang mempersatukan hati mereka (orang yang beriman). Walaupun kamu menginfak-kan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka. Sungguh, Dia Mahaperkasa Mahabijaksana.” (QS. Al-Anfal:63)

Hubungan yang terjadi atas kesatuan aqidah merupakan karunia terbaik dari Allah SWT yang harus senantiasa dijaga. Dengan ikatan ini, interaksi yang terjalin karena alasan lainnya dapat dihilangkan. Tidak ada lagi fanatisme kesukuan atau golongan yang merendahkan orang lain di luar kelompoknya. Hubungan ‘untung-rugi’ dengan latar belakang ekonomi tak lagi diperhitungkan. Permusuhan dan kebencian karena perbedaan dapat dimusnahkan lalu berganti dengan keikhlasan karena Allah SWT. Bukankah ini adalah nikmat yang luar biasa.

Bergaul yang Membawa ke Surga

Niat yang Lurus

Niat kita dalam bergaul pun mutlak harus diperhatikan. Karena jelas, hal itu akan menentukan berjalannya sebuah pertemanan antara seseorang dengan orang lain.
Berkenaan dengan niat, Rasulullah saw bersabda,

“Sesungguhnya amal perbuatan tergantung pada niat, dan sesungguhnya setiap orang akan mendapatkan sesuai apa yang ia niatkan.”
(HR. Bukhari-Muslim)

Merujuk pada hadits di atas, dalam berteman hendaknya kita berniat semata-mata karena Allah. Yaitu, menjadikan kawan sebagai penolong dalam urusan dunia maupun akhirat. Dan tentu saja juga sebagai pendukung dalam menaati hukum-hukum Allah agar selamat di dunia dan di akhirat.
Dengan niat yang lurus ini, semoga Allah membimbing kita pada sahabat yang senantiasa membawa kebaikan dunia dan akhirat.

Pilih-pilih Teman

Pilih-pilih teman biasanya diidentikan dengan kesombongan. Maunya berteman dengan si anu, dan tidak mau dekat-dekat dengan si anu.

Benar, jika dalam urusan pilih-pilih teman ini kita sandarkan pada urusan dunia yang sifatnya materialistis. Misalnya, apakah kita berteman dengan seseorang karena dia kaya, cantik, punya status sosial yang tinggi, dan lain sebagainya. Tentu saja bukan karena hal-hal demikian kita diharuskan dalam memilih teman.

Islam menganjurkan agar kita hati-hati dalam memilih teman dengan tujuan agar kita tidak berteman melainkan dengan orang-orang mukmin yang shalih dan taat beragama. Sebab, tak dapat dipungkiri, teman cepat atau lambat akan memberikan pengaruh terhadap diri kita.  Tabiat dan watak seseorang dapat terbentuk melalui pergaulan dan interaksi dengan lingkungan sekitar.

Rasulullah saw bersabda,

“Sesungguhnya perumpamaan teman baik dengan teman buruk adalah seperti penjual minyak wangi dan pandai besi. Adapun penjual minyak wangi maka dia akan menghadiahkannya kepadamu atau kamu membeli darinya atau kamu akan mendapat aroma wanginya. Adapun pandai besi maka boleh jadi ia akan membakar tubuhmu atau pakaianmu atau engkau akan mencium bau busuk darinya.” (HR. Bukhari-Muslim)

Lalu, bagaimana sebenarnya ciri teman yang baik? Yang pertama, tentunya ia haruslah seorang mukmin sebagaimana sabda Rasulullah saw,

“Janganlah kamu mengambil teman kecuali yang mukmin...” (HR. At-Tirmidzi dan Abu Dawud)

Karakteristik orang mukmin adalah sebagaimana yang digambarkan oleh Allah dalam firman-Nya,

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman (mukmin) adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetar hatinya dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka bertambah (kuat) imannya dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal.” (QS. Al Anfal:2)

Yang kedua, ciri teman yang baik adalah yang berakhlaq mulia. Sangat penting menilai akhlaq seorang teman, sebab tabiat manusia memiliki kecenderungan untuk meniru orang yang ada di dekatnya. Ibnu Taimiyah berkata, “Sesungguhnya manusia itu seperti sekawanan burung, selalu tertarik untuk saling meniru satu sama lainnya.”

Akhlaq yang mulia mendatangkan kecintaan Allah dan juga kasih sayang manusia. Rasulullah saw bersabda,

"Kaum mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaqnya, yang paling lapang dadanya, yang mudah bersahabat dan disahabati. Tidak ada kebaikan pada orang yang tidak bersahabat dan tidak disahabati.” (HR. Ath-Thabrani)

Pahami Hakikat Persaudaraan

Kunci utama dalam membina persahabatan adalah niat yang lurus untuk membangun ketaatan dan meninggalkan kemaksiatan kepada Allah dengan memegang aqidah dan pedoman yang haq. Jika aqidah telah merasuk ke dalam hati maka akan membawa perasaan cinta dan bersaudara karena Allah semata.

Rasulullah saw bersabda,

“Seorang lelaki mengunjungi saudaranya (seiman) di kota lain. Lalu Allah mengirim seorang malaikat untuk mengikuti perjalanannya. Tatkala bertemu dengannya malaikat itu bertanya, ‘Kemanakah engkau hendak pergi?’ Ia menjawab, ‘Aku hendak mengunjungi saudaraku di kota ini.’ Malaikat itu bertanya lagi, ‘Adakah suatu keuntungan yang engkau harapkan darinya?’ Ia menjawab, ‘Tidak ada, hanya saja aku mencintainya karena Allah.’ Maka, malaikat itu berkata, ‘Sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu untuk menyampaikan bahwa Allah mencintaimu sebagaimana engkau mencintainya karena Allah.’” (HR. Bukhari-Muslim)

Tidak terbantahkan lagi bahwa kunci yang paling penting dalam pertemanan adalah menghadirkan Allah dalam landasan hubungan dan kasih sayang di antara mereka. Sebab, Allah menetapkan cinta-Nya bagi orang yang saling mencintai karena Dia.

Agar Pergaulan Tak Jadi Sesalan

Pada akhirnya, kita akan mendapati bahwa teman yang tidak baik akan membawa temannya ke dalam keburukan di dunia dan mendorong ke dalam neraka di akhirat.
Teman yang jahat akan membawa temannya ke jurang bencana dan mengantarkannya ke neraka jahanam. Dan di akhirat mereka akan berubah menjadi musuh yang saling menjatuhkan.

Allah SWT berfirman,

“Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh  bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertaqwa.” (QS.Az Zukhruf:67)

Seorang mukmin itu ibarat cermin bagi mukmin lainnya. Ketika ia melihat sahabatnya maka seolah-olah ia melihat dirinya sendiri.

Rasulullah saw bersabda,

“Mukmin itu ibarat cermin bagi mukmin lainnya yang senantiasa mencegah saudaranya dari kebangkrutan dan senantiasa melindunginya dari marabahaya.”
(HR. Abu Dawud)

Teman yang baik akan mencegah kita dari kebangkrutan. Ia memberi nasehat berharga saat kita khilaf, menjaga dan membela kehormatan kita tatkala kita tak berada di sampingnya. Menghibur kita tatkala sedih dan membantu kita saat membutuhkan pertolongan. Walalupun tak berhubungan darah, tidak ada keuntungan harta yang diperoleh, dan tidak ada ikatan duniawi. Tujuannya, hanya ridho Allah di dunia dan di akhirat. Wallahu’alam bishowwab.

Jumat, 01 Februari 2013

Riba, Berkah Sedekah dan Laptop Merah

 


MEI 2012, Saya mengungkapkan pada istri kalau saya membutuhkan sebuah lap top untuk kerja. Bagi saya, seorang koresponden sebuah media, laptop bukan untuk gaya hidup, namun sebuah kebutuhan tidak terpisahkan.
Sebuah brosur penawaran cicilan computer portable ini sudah ada di tangan. Namun, ada beberapa kendala.
Pertama, tahun ini adalah tahun pelunasan hutang bagi keluarga saya. Baik hutang investasi dari bisnis-bisnis yang karam di tengah jalan ataupun hutang-hutang pribadi lainnya.  Kedua, hal juga yang tidak kalah penting, yakni soal riba.Kegusaran hati untuk melepaskan diri dari riba telah menjadi bagian cita-citanya istri saya, wanita paling aku sayangi yang paling tidak setuju aku memutuskan mengambil computer dengan cara mencicil seperti tawaran dalam brosur. Akhirnya, memiliki sebuah laptop sendiri, menjadi bukan sesuatu hal urgent.
Akhirnya, aku harus bersabar lagi dan tetap pada kebiasaan lama, menulis berita liputan menunggu si kecil tidur pulas setiap malam, sekitar pukul 22.00 WIB. Biasanya, setelah jam itu lewat, aku segera lari menuju warnet.
Kesabaran adalah kunci, ketekunan adalah ikhtiar dan doa adalah pondasi dasar yang menguatkan. Tiba-tiba seorang sahabat meminjamkan sebuah laptop Toshiba seri lama.Akhirnya alat ini cukup membantuku untuk menulis berita.
Hanya saja, laptop merah di pamflet promosi itu terus menghantui saya. Aku sangat ingin sekali memilikinya. Maklum, aku memang pengagum warna merah.
Akhir Juni 2012, laptop pinjaman sahabat saya rusak. Layar monitor LCD gelap tak terlihat jelas tampilan windowsnya. Namanya juga sudah udzur, karena laptop ini memang sudah lama. Sahabat saya, Abu Sofian membelinya ketika saat itu model ini baru keluar sekitar 3-4 tahun lalu.Akhirnya, saya harus kembali ke warnet lagi.
Bulan Juli 2012 menjadi kisahnya tersendiri. Tak disangka, beritaku ibarat air, tiba-tiba telah mencapai angka 84 berita. Subhanallah. Alku sendiri kaget hingga bisa sebanyak itu.Memang, setiap bangun tidur dan setelah selesai semua urusan, yang ada dalam otakku adalah apa yang harus aku tulis hari ini untuk ‘melayani’ umat dengan informasi terakurat dan terbaru.
Iseng-iseng, aku coba lagi laptop sahabatku yang rusak windows nya itu dan menyambungnya pada sebuah kabel di tabung monitor PC yang tidak terpakai. Ajaib, monitor itu ‘akur’ alias mau bekerjasama. Betapa gembiranya, monitor itu akhirnya nyala. Jadilah aku bisa kembali bekerja tanpa perlu ke warnet. Aku bisa memulai awal Ramadhan ini dengan begitu padat. Keluar-masuk masjid dan memantau kegiatan ibadah umat Islam di bulan penuh berkah ini.


Sedekah dan Dakwah


Suatu hari aku diminta seorang sahabat menjadi pembicara di sebuah kajian di bilangan Kalibata, Jakarta Selatan. Pekan itu, ada dua undangan untukku menjadi pembicara. Padahal, biasanya, aku adalah orang yang menutup diri dari aktivitas menjadi pembicara. Aku bahkan banyak menolaknya. Namun untuk sahabat satu ini, rupanya aku tidak bisa menolak permintaannya.
Akhirnya, satu acara aku alihkan pada seorang teman, dia lebih senior dariku. Menariknya dalam akhir acara temanku yang lebih senior itu tiba-tiba disodori amplop oleh panitia. Di depan mata dan kepala saya, ia menolaknya.
“Tidak usah ah, kasih yang lain aja,” ujarnya. Meski terus dipaksa, dia tetap menolak.


Malamnya saya mempersiapkan materi undangan di Kalibata. Sebab, besok pagi, aku harus menjadi pengisi materi.
Malam itu, otakku seolah terpecah. Mulai dari tanggung jawab sebagai kontributor, tugas-tugas lain, hingga kurang uang untuk membayar kontrakan rumah yang sudah masuk deadline.
Paginya, usai memberikan materi, seorang panitia mendekati saya dan menyodorkan amplop.
Pada menit pertama amplop disodorkan, otak dan batin saya bertempur. Aku teringat sahabat saya yang menolak amplop kemarin. Selain itu, saya tahu komunitas kajian ini juga butuh dana dakwah untuk kegiatannya.
Di sisi lain, otak saya bicara bahwa enam hari lagi saya harus membayar kontrakan rumah. Setumpuk bisikan pro dan kontra datang di hati dan otak saya saat itu.


Bismillahirahmanirrahim, sayapun memutuskan untuk menolak amplop itu dengan berat hati.
Di atas motor, istri saya bertanya,“Tadi dikasih amplop, tapi kenapa ditolak?
“Tidak apa-apa, kita sedekahin aja ya, InsyaAllah nanti Allah akan mengganti yang lebih baik,” begitu jawabku.
“Iya,” jawab istriku sambil menggendong si Kecil.
Tak Ada Hidup yang Susah
Ramadhan ini saya hanya fokus pada perbaikan diri, mengurus keluarga dan menuntaskan tugas-tugas kerja. Saya bahkan mulai lupa laptop merah, hingga suatu hari, seorang sahabat saya memotretku saat bekerja yang baginya mungkin sebuah kelucuan. Di mana keyboard ku menggunakan laptop rusak, tapi layarnya menggunakan sebuah PC.
Rupanya, usai memotret itu, ia memuatnya di sebuah laman Facebook (FB). 


Beberapa orang memberi apresiasi. Ada yang memberi komentar atau memberi tanda jempol. Namun giliran komentar berikutnya datang dari seorang sahabat, seorang pengusaha muda dan aktivis Muslim.
“Berapa nomor rekeningnya,” begitu komentarnya sangat pendek.
Rupanya, pria yang tinggal Yogyakarta itu ternyata tidak main-main dengan omongannya. Sore hari, saya dapati ada uang transfer di rekeningku yang cukup banyak.
Kaget juga, uang siapa ini? siapa yang transfer? untuk apa? Sampai di situ aku masih tidak terlalu serius menanggapi komentar sang pengusaha muda ini. Setelah aku kroscek, rupanya benar. Dialah yang transfer uang itu. Ia hanya berpesan agar uang itu dibelikan laptop.
Sambil pulang, aku langsung mencairkan semua uang itu melalui ATM. Searah perjalan, ada sebuah toko khusus menjual laptop dan sparepart komputer. Saya mampir dan di ujung toko itu persis ada laptop berwarna merah yang pernah aku impikan. Persis, seperti laptop di pamflet promosi cicilan sebulan lalu. Tanpa pikir panjang, saya tanya ke kasir.
“Berapa harga barang itu mbak?” tanyaku.
Betapa kagetnya, ternyata harnya sama dengan harga di brosur yang pernah aku pegang bulan lalu.
Tanpa panjang pikir, aku memutuskan membeli laptop itu. Dengan sedikit tambahan dari tabungan saya. Dan aku akhirnya membawa pulang laptop baru.
Rupanya, di rumah, istriku lebih kaget lagi.
“Ini apa? Kamu dapat uang darimana lagi?” tanyanya dengan nada kritis.
Setelah aku jelaskan, akhirnya mata wanita terbaik dalam hidupku inipun seketika basah. Hangat dia memeluk saya. Saya kagum istriku dia menjaga saya untuk menjauhi budaya-budaya riba. Hingga aku teringat nasehat seorang ulama di sebuah gerakan Islam yang telah tiada, “Kejarlah Akhiratmu, Niscara dunia akan mengejarmu.”
Sampai di sini sesungguhnya aku tidak tahu semua kejadian ini. Aku hanya teringat amplop yang saya tolak saat mengisi kajian itu. Saya merasakan kekuatan sedekah untuk kesekian kali. Selama ini aku tidak minta banyak hal dari Allah, apalagi mengecilkan pemilik Arsy ini. Aku juga tidak pernah berdoa kepadaNya hanya untuk meminta laptop. Namun aku selalu berdoa padaNya agar IA memaafkan dosa-dosaku, Kalaupun ada doa menyangkut kebutuhanku, biasanya aku selalu berdoa, “Ya Allah cukupilah kebutuhanku.”
Subhanallah, pada kondisi-kondisi yang tepat, justru Allah tak pernah menelantarkan saya dari kebutuhan hidup ini. Semuanya cukup.
Ya Rabb, Tak ada pelarian terbaik selain menangis dihadapanMu. Tak ada kekuatan terbaik selain berasal dariMu. Tak ada penghiburan terbaik selalu menikmati sajian ayat-ayatMu.
Ya Rabb, ajarkan dan kuatkanlah kami. Agar kami tidak termasuk orang-orang yang suka mendustakan nikmatMu.
Hikmah
Pelajaran dari kisah ini adalah, sesungguhnya Allah Subhanahu Wata’ala telah “membeli” dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan syurga untuk mereka. (At Taubáh: 111)
Sesungguhnya Allah mencatat setiap amal kebaikan dan amal keburukan.Kata Nabi,orang yang meniatkan sebuah kebaikan, namun tidak mengamalkannya, Allah mencatat baginya satu pahala kebaikan sempurna. Sedang orang yang meniatkan sebuah kebaikan, lalu mengamalkannya, Allah mencatat pahala baginya 10 sampai 700 kali lipat banyaknya.
“Barangsiapa datang dengan (membawa) satu kebaikan, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat.” (Q.S. Al-An’am : 160)

Dari Pelayan Kuil Hindu Menjadi Hamba Allah

Hidayatullah.com--Usai menunaikan shalat isya, Abdul Rahman, seorang warga India berusia 40an tahun duduk memegang sebuah pena sambil berpikir di ruangannya. Kepalanya penuh ide untuk buku yang sedang ditulisnya berjudul “Pandit bane Musalmaan” (pendeta Hindu menjadi Muslim) dalam bahasa Hindi.
Pria ini bekerja sebagai penjaga gudang di Binladin BTAT Construction Company yang menggarap Proyek Waqaf Raja Abdulaziz di depan Masjidil Haram, Makkah.
Sebelum tiba di Jeddah pada 21 Mei 2002 dan memeluk Islam, Abdul Rahman dikenal dengan nama Sushil Kumar Sharma. Dia berasal dari Amadalpur, sebuah desa kecil di sebelah utara negara bagian Haryana. Dia dilahirkan dalam sebuah keluarga Hindu Orthodoks yang bertugas menyelenggarakan ucapara keagamaan di kuil desa.
Saat berada di asrama yang disediakan perusahaannya di Jeddah, salah seorang temannya memberikan buku-buku Islam dalam bahasa Hindi.
Kemudian, Abdul Rahman dipindahtugaskan ke Riyadh untuk menggarap proyek Universitas Putri Noura, perguruan tinggi khusus wanita terbesar di dunia.
Teman-teman satu asramanya yang memperkenalkan Islam kepada Abdul Rahman. Terutama teman satu kamarnya asal Rajastan (negara bagian di baratlaut India), Salim.
Sahabatnya itu sering menceritakan kisah-kisah nabi Islam dan menyampaikan hadits-hadits Nabi Muhammad saat mereka istirahat atau di waktu luang.
“Hatiku bergetar. Aku mulai bertanya pada diri sendiri, apa yang akan terjadi padaku setelah mati? Apakah dosa-dosaku akan memasukkanku ke dalam neraka? Aku takut akan azab kubur yang ditimpakan kepada orang-orang yang berdosa dan kafir,” kenangnya.
“Aku jadi mulai sulit tidur. Aku tahu itu adalah saatnya untuk menjadi pengikut sejati Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam. Setidaknya, pencarianku akan kebenaran akan berakhir di sini.”
“Keesokan harinya aku menceritakan tentang keinginanku untuk memeluk Islam kepada Salim dan teman-teman lain di kamp. Semua orang menjadi gembira, mereka memelukku dan memberiku selamat.”
Abdul Rahman melihat Islam sebagai agama yang mengakui persaudaraan universal. Dalam Islam tidak ada kasta, tidak ada peredaan warna kulit, ras, ataupun asal-usul seseorang. “Itulah yang menarikku masuk Islam,” ujarnya.
Di Kantor Dakwah di Al-Batha, Riyadh, Sushil Kumar kemudian mengucapkan dua kalimat syahadat dengan bimbingan imam masjid di kamp tempat tinggalnya. Sushil Kumar lalu mengganti namanya dengan Abdul Rahman, seperti saran imam tersebut.
Setelah itu Abdul Rahman dipindah ke proyek jalan raya di Bahra, dekat jalan yang menghubungkan Makkah-Jeddah. Pimpinan proyek di sana sangat baik kepada Abdul Rahman, karena mengetahui dia adalah seorang mualaf.
“Tapi aku sangat ingin berada dekat Allah. Aku berdoa agar dipindah ke Makkah,” kata Abdul Rahman.
Ternyata doanya itu terkabul, dia pun kemudian dipindah ke Proyek Waqaf yang berada tepat di depan Masjidil Haram.
“Sekarang aku punya tugas besar; mengajak keluargaku memeluk Islam,” kata Abdul Rahman yang memiliki seorang istri dan dua orang putra berusia remaja.
“Aku sudah menyampaikan kepada mereka lewat telepon bahwa aku sudah menerima Islam dan menjadi Muslim. Awalnya mereka tidak percaya. Istriku berkata bahwa dia akan membuat keputusan jika aku kembali ke India saat liburan. Setiap hari aku berdoa meminta agar Allah menunjukkan kepada mereka jalan yang benar dan melebutkan hatinya agar menerima Islam,” kata Abdul Rahman dengan air mata berlinang.
“Aku juga mungkin akan menghadapi banyak tentangan dari saudara, teman dan warga desa. Tapi aku bersikukuh untuk menghadapi mereka. Aku yakin Allah akan membantuku.”
Abdul Rahman mengajak non-Muslim agar menerima Islam, agar sukses dunia dan akhirat.
“Yang juga menyedihkan adalah aku melihat begitu banyak Muslim tidak menjalankan Islam sebagaimana diajarkan Nabi Muhammad. Aku mengajak mereka agar berhenti dari meniru orang lain,” pungkas Abdul Rahman.*

Nasihat Sang Anak untuk Umar bin Abdul Aziz

UMAR BIN ABDUL AZIZ suatu saat duduk untuk melayani manusia, namun tatkala datang waktu tengah hari beliau merasa lelah dan bosan dan akhirnya beliau menyampaikan kepada mereka yang hadir,”Tetap berada di tempat kalian, hingga aku datang kembali kepada kalian”.
Di saat yang bertepatan Abdul Malik putra Umar bin Abdul Aziz datang lalu bertanya mengenai keberadaan sang ayah, dan mereka yang berada ditempat itu menjawab,”Ia masuk”. Sang putra pun meminta izin kepada sang ayah untuk masuk dan ia pun diizinkan. 
Setelah memasuki ruangan sang ayah, Abdul Malik pun bertanya,”Wahai Amirul Mukminin, apa yang menyebabkan Anda masuk?” Umar bin Abdul Aziz pun menjawab,”Aku ingin beristirahat sejenak”. Sang putra pun menjawab,”Bagaimana jika kematian datang menjemput Anda, sedangkan rakyat Anda menunggu di depan pintu namun Anda enggan menemui mereka?” Umar pun segera bangkit dan menemui rakyatnya (Shifat Ash Shafwah, 2/90)


http://www.hidayatullah.com/read/27057/01/02/2013/nasihat-sang-anak-untuk-umar-bin-abdul-aziz.html

Anis Matta Ajak Seluruh Kader PKS Tobat Nasional


http://www.hidayatullah.com/berita/gal828534820.jpg

Hidayatullah.com—Usai menerima amanah menjadi Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang baru menggantikan Luthfi Hasan Ishaaq, Anis Matta memberikan pernyataan. Dalam statemen nya, ia mengatakan, langkah pertama yang dilakukan PKS adalah mengajak pengurus dan semua kader PKS untuk melakukan tobat nasional.
“Agenda pertama kita adalah melakukan tobat nasional kepada seluruh kader. Hal pertama yang dilakukan adalah mengucapkan istighfar seperti layaknya kita ucapkan selesai shalat,” tegas Anis Matta dalam konferensi pers di kantor DPP PKS Jalan TB Simatupang, Jakarta Selatannya, Jum'at (01/02/2013).
Baginya ada tiga hal penting yang harus dilakukan seluruh kader PKS. Pertama adalah memohon bantuan kepada Allah. Kedua menghadapi semua dalam kebersamaan dan ketiga adalah bekerja keras melayani umat.
"Tidak ada lagi waktu tidur bagi kita sejak hari ini," teriaknya dengan nada berapi-api.
Anis Matta berharap agar kader PKS dan simpatisannya tidak berputus asa. Menurutnya dengan yakin pada Allah, maka cobaan dan musibah yang sekarang dihadapi PKS bisa menjadi rahmat dan karunia.
"Kita pasti bisa melewatinya kita pasti akan menaklukkannya," ujarnya menyemangati pada kadernya.
Tetesan airmata tak tertahankan. Dari Kepanduan PKS hingga Ketua Dewan Syuro PKS, Hilmy Aminudin, Hidayat Nur Wahid terlihat meneteskan air mata.
Bagi Anis Matta, musibah ini bukan hal mudah bagi PKS. Ia lantang mengatakan, bahwa kejadian yang menimpah Lutfhi ini adalah momentum pembenahan diri.
"Ini bukan hari hari mudah bagi kami di PKS. Tapi kami pasti mampu  melaluinya dengan Izin Allah," tegaslah disambut gemuruh takbir.
"Kita tidak berubah melawan korupsi. Karena itu adalah komitmen PKS. Namun yang kita lawan adalah tirani yang menunggangi semangat anti korupsi ini untuk kepentingannya," ujarnya.
Menurutnya,  setelah addenda pertobatan nasional bagi seluruh pengurus PKS. Ia ingin, PKS memulai momentum baru.
"Kemarin kita lihat saudara kita Luthfi ditangkap di ruangan ini. Dan dari ruangan inilah kita akan buktikan sejarah baru itu," tambahnya.*

Menjaga Lisan Termasuk Bagian Iman




Oleh: Badrul Tamam

Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulillah –Shallallahu 'Alaihi Wasallam-, keluarga dan para sahabatnya.
Menjaga lisan berupa diam dari berkata yang mengundang kemarahan Allah 'Azza wa Jalla  merupakan fardhu 'ain atas setiap muslim dan muslimah. Lebih dari itu, menjaga lisan termasuk bagian dari iman.
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
"Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaknya ia berkata yang baik atau (jika tidak bisa) hendaknya ia diam." (Muttafaq 'Alaih)
Maksudnya: siapa yang beriman dengan keimanan yang sempurna hendaknya ia berkata yang baik, dan jika tidak maka hendaknya ia diam. Karena orang yang beriman kepada Allah dengan keimanan yang benar maka ia mengharapkan pahala-Nya, takut ancaman-Nya, berusaha mengerjakan perintha-Nya, menjauhi segala larangan-Nya; di antara ia memelihara seluruh anggota tubuhnya agar tidak melakukan sesuatu yang mengundang kemurkaan-Nya. Salah satu anggota tubuhnya tersebut adalah lisannya.
Sesungguhnya urusan lisan sangat besar. Fitnahnya sangat banyak. Bahayanya juga tak terduga. karena gerakan lisan tidak memerlukan tenaga yang besar dan dilakukan sangat mudah. Di tambah banyak orang menggampangkan urusannya. Akibatnya, banyak orang masuk neraka karena kerja lisannya. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,
وَهَلْ يَكُبُّ النَّاسَ فِي النَّارِ عَلَى وُجُوهِهِمْ (أَوْ: عَلَى مَنَاخِرِهِمْ) إِلاَّ حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِمْ
"Apakah (ada) yang menyebabkan seseorang terjerembab di neraka di atas wajah (atau hidung mereka) kecuali disebabkan oleh tindakan lisan mereka'?" (HR. Al-Tirmidzi, beliau berkata: hadits hasan shahih)
Maka siapa yang mengimani hal ini dengan benar, maka ia akan bertakwa kepada Allah berkenaan dengan lisannya, sehingga ia tidak berbicara kecuali kebaikan atau –jika tidak- maka ia memilih diam.
Para ahli hikmah menyampaikan, "Di dalam diam terdapat keselamatan, sedangkan di dalam berbicara terdapat penyesalan. Jika berbicara adalah perak, maka diam adalah emas." Wallahu Ta'ala A'lam. [PurWD/voa-islam.com]

Sambut Mujahidin, Muslimin Mali Dibantai & Madrasah Al-Qur'an Dibakar


 http://www.dw.de/image/0,,16517655_404,00.jpg

MALI.AFRIKA.(voa-islam.com) – Kamis (31/01/13) diberitakan oleh media – media lokal bahwa tentara Negro yang  berafiliasi kepada tentara Perancis, yang melancarkan perang terhadap kaum muslimin di Mali Utara, melakukan pembantaian terhadap anak – anak dan membakar madrasah – madrasah tahfiz Al-Qur’an.
Sebuah pernyataan yang dilansir oleh surat kabar Aljazair, Alsyuruq, menegaskan bahwa milisi ini melakukan “pembersihan” etnis penduduk Arab lokal dan Tuarek. Mereka dibantai karena satu alasan, mujahidin masuk kota mereka atau mereka membantu mujahidin.
Pernyataan tersebut mengutip dari para saksi di daerah Diabala yang mengatakan bahwa orang – orang Negro yang bersenjata itu mendatangi desa dengan mengendarai mobil militer Kamis pagi, mencari keluarga – keluarga dari etnis Arab dan Tuarek. Mereka membunuh beberapa orang dan menculik wanita.
“kami bangun dan kaget yang membuat kami keluar dari rumah kami. Kami mengira bahwa ada pembantaian penduduk desa. Terutama karena tentara Mali tahu bahwa mereka sebelumnya menerima kedatngan para islamis dan mereka tinggal di desa kami beberapa hari serta kami tidak melihat dari mereka kecuali kebaikan dan keadilan. Dan setelah itu, kami tahu bahwa peritiwa itu terjadi pada tetangga kami, keluarga Khairi walad Hama, dan kami mendengar teriakan dan tangisan” tutur salah seorang saksi mata.
“Darah orang Arab dan Tuarek ditumpahkan dihadapan dunia dan tidak ada yang bergerak. Mereka (milisi) menggap telah membebaskan Mali utara dari pejuang Islami, tapi sungguh mereka telah memberikan kerusakan, kehancuran dan pembantaian kepada kami….. Sekarang mereka datang dengan menggunakan pakaian tentara Mali bersama milisi dan beberapa orang kulit putih berbahasa Inggris. Mereka merusak pintu rumah dan berbuat kerusakan di dalamnya. Mereka mengumpulkan remaja, yang berusia kurang dari 18 tahun, kemudian mereka bunuh tanpa belas kasih. Mereka juga menghancurkan tempat – tempat belajar Al-Qur’an, merusak mushaf dan papan tulis dari kayu. Setelah itu mereka keluar meninggalkan desa” tambah saksi mata tersebut. (usamah/dbs)